MAKALAH
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET DAN
IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

Oleh:
Nama : ALPI SISWANTO
NIM : 15 11 005
Prodi : Magister Pendidikan Agama Hindu
Semester : II (Dua)
Jenjang : Strata Dua (S.2)
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG
PENYANG ( STAHN-TP )
PALANGKA RAYA
2016
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Tabe Selamat
Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang.
Puji dan syukur
penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
karunia-Nya maka makalah ini dapat di selesaikan dengan tepat waktu sesuai
dengan yang diharapkan oleh Bapak/Ibu Dosen Pegampu Mata Kuliah “Lamndasan Pembelajaran II” dengan judul: “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan
Implementasinya Dalam Pendidikan”.
Penulis
menyadari sesungguhnya di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kelancaran makalah yang berikutnya. Dan tidak lupa juga penulis
ucapkan terima kasih atas semua pihak yang meluangkan waktunya dan memberikan
sumbangan pikiran dalam penyusunan makalah ini.
Akhir
kata penulis tidak lupa mengucapkan semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menuntun, melindungi dan
menuntun kita semua, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.dan semoga pemikiran yang bersifat positif, baik selalu datang dari
segala arah.
Om Santih Santih Santih Om
Sahey.
Palangka
Raya, Mei 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengetahuan itu bukanlah salinan dari obyek dan juga bukan berbentuk
kesadaran apriori yang sudah ditetapkan di dalam diri subyek, ia bentukan
perseptual, oleh pertukaran antara organisme dan lingkungan dari sudut tinjauan
biologi dan antara fikiran dan obyeknya menurut tinjauan kognitif Piaget (dalam
Bringuier, 1980: 110)
Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan
batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan
lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk
struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan.
Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu
masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa
awal.
Perkembangan cara berfikir yang berlainan dari masa bayi
sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra operasi, operasi kongkrit
dan opersai formal. Proses dibentuknya setiap struktur yang lebih kompleks ini
adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur oleh ekuilibrasi.
Piaget juga memberikan proses pembentukan pengetahuan dari
pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman fisik atau pengetahuan eksogen,
yang merupakan abstraksi dari ciri – ciri dari obyek, pengalaman logis
matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui reorganisasi proses pemikiran
anak didik . Sruktur tindakan, operasi kongkrit dan operasai formal dibangun
dengan jalan logis – matematis.
Sumbangan bagi praktek pendidikan untuk karya – karya
Piaget mengenali pengetahuan yang disosialisasikan dari sudut pandangan anak.
Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa teorinya tidak
memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran – pelajaran pokok
seperti membaca dan menulis.
B. Rumusan Makalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas aka yang
menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan Kognitif?
2.
Bagaimanakan
Prinsip dasar teori Piaget?
3.
Bagaimanakah
Aspek inteligensi?
4.
Bagaimanakah
Teori Perkembangan Piaget?
5.
Sepertiapakah
Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalha ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dmaksud dengan Kognitif.
2.
Untuk
mengetahui prinsip dasar teori Piaget.
3.
Untuk
mengetahui aspek inteligensi.
4.
Untuk
mengetahui teori Perkembangan Piaget.
5. Untuk mengetahui implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam
pembelajaran.
D. Metode Penulisan
Metode yang Digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu
mengunakan metode keperpustakaan dimana dengan mengutip dari buku-buku yang ada
hubungannya dengan permasalahan dan judul makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kognitif
Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi
pendidikan. Secara umumkognitif diartikan potensi intelektual yang
terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehention), penerapan
(aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif
berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional
(akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya
untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.
Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan
teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspekkemampuan perilaku yang diwujudkan dengan
cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata
kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki
kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan
intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara
mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss,
mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka
sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari
perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi).
Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap
organisme untuk mengintegasi proses-proses sendiri menjadi system - sistem yang
koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap
organisme untuk memyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan sosial.
Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara
yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan
informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi
adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.
B. Prinsip Dasar Teori Piaget
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual
yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi &
psikologis ( perkembangan jiwa). Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi
biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu
lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk
lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat
pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian &
kendaraan untuk transportasi.
v Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif, yaitu :
1.
Fisik
Interaksi antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuan
baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan
pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman
tersebut.
2.
Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak
memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka
kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi
secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan
yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan
belajar sendiri.
3.
Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik
dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
4.
Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur
interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik,
pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan
kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
C. Aspek Inteligensi
Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif
berbeda :
1.
Struktur Disebut
juga scheme (skemata/Schemas). Struktur
& organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru
struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia
luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur
kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil
informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya
serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller) Dua hal penting yg
harus diingat tentang membangun struktur kognitif :
a.
Seseorang
terlibat secara aktif dalam membangun proses.
b.
Lingkungan
dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembanga struktural.
- Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku
spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi
kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi
lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat
“isi” kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi
adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa”
ditentukan oleh kognitif atau intelektual.
- Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses
dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi
dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi:
cenderung untuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari
bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara
untuk mengurangi kompleksitas.
Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :
a)
Organisme memanipulasi dunia luar dengan cara
membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses
ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi
mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg
sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam
komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.
b)
Organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi
lebih menyukai lingkungannya. Proses
ini disebut akomodasi. Ketika
seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk
memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan
tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk
menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi
seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke
tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena
ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu
berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di
lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut
selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
D. Teori Perkembangan Piaget
Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana
manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi.
Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif
dipengaruhi oleh maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi
sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang
terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani
lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi
dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.
Ø Tahap – tahap Perkembangan
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang
berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
1.
Periode
sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2.
Periode
praoperasional (usia 2–7 tahun)
3.
Periode
operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4.
Periode
operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
1.
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga
dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui
diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah
periode pertama dari empat periode.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan
pemahaman spatial/persepsi penting dalam enam sub-tahapan:
a.
Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama
dengan refleks.
b.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan
munculnya kebiasaan kebiasaan.
c.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama
dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d.
Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat
berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau
kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan
terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f.
Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
2.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati
urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun
jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam
teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap
objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara
logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan
merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata.
Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat
dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan
satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda
atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor
dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak
mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan
benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan
penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung
egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana
hal tersebut berhubungan satu sama lain.
Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya.
Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain
semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan
menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
3.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia
enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang
memadai.
Proses-proses penting selama tahapan operasional
konkrit adalah :
Pengurutan: kemampuan untuk
mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila
diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling
besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi: kemampuan untuk memberi
nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya,
atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat
menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki
keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan
berperasaan)
Decentering: anak mulai
mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi
pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility: anak
mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama
dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi: memahami bahwa kuantitas,
panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan
atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak
diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air
dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap
sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme: kemampuan
untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut
berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang
memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan,
kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti
kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti
akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa
boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
4.
Tahapan
operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif
dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat
pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah
diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan
menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti
logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan
putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis,
tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar
lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif,
penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa
orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia
tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap
menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Ø Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
·
Walau
tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu
sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
·
Universal
(tidak terkait budaya)
·
Bisa
digeneralisasi : representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri
seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
·
Tahapan-tahapan
tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
·
Urutan
tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan
sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
·
Tahapan
merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya
perbedaan kuantitatif
Ø Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
a.
Berfikir atau
proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa
dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam
kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
b.
Teori
dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran
diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan
fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan
kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
c.
Piaget
memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua
individu tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya , yang mendalami
bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan
intelektual.
d.
Menurut
Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan
informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.
e.
Pengetahuan
tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa
menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan
memodivikasi pengetahuan awal mereka.
f.
Piaget
menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus
–menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut
Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang
lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget
ini.
g.
Kebanyakan
ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran
anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika
anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga
peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia
ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
E. Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam
Pembelajaran
1.
Bahasa
dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.
Anak-anak
akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru
harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3.
Bahan
yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4.
Berikan
peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5.
Di dalam
kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya.
Ø Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain
sebagai berikut :
- Memfokuskan pada proses berfikir atau
proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran
jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga
sampai pada jawaban tersebut.
- Pengenalan dan pengakuan atas peranan
anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif
dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi
(ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk
menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan
lingkungan.
- Tidak menekankan pada praktek - praktek
yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam
pemikirannya.
- Penerimaan terhadap perbedaan individu
dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak
berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka
memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss,
mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka
sendiri. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan
kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan
lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif.
Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan
materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai
siswa dan sebagainya.
Jean
Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg
mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir
dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk
tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai
konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang
ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis,
tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Menurut
Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :
1. Struktur, 2. Isi, 3. Fungsi
Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009)
perkembangan kognitif dipengaruhi oleh maturasi (kematangan),
aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan
perubahan biologis yang terprogram secara genetik.
Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam
pembelajaran adalah:
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa,
Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik, bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing, berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan di
dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.
B. Saran
Dunia pendidikan tidak lepas dari yang namanya guru dan
siswa, seorang guru harus mampu memiliki kompetensi yang lebih memadai untuk
menunjang proses pembelajaran yang aktif, keriatif, inopatif, dan menyanangkan.
Selain itu guru juga harus mampu memberikan rtimulus yang
membuat siswa menjadi manusia yang seutuhnya. Siswa juga diharapkan mampu
memberikan yang terbaik demi kemajuan dan keberhasilannya dalam menempuh
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Woolfolk, 2009, Educational Psychology, Active
Learning Edition, Bagian Pertama,
Edisi Bahasa Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
, 2009. Educational Psychology. Edisi Bahasa
Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
By Gina F & Balya Hulaimy, Ibid.
Margaret E. Bell Gredler1991, Belajar dan
Membelajarkan, CV Rajawali UniversitasTerbuka
Wikipedia, VALMBAND, Latar Belakang Jean Piaget, arthachristianti. wordpress. com, Pembelajaran Guru, Berbagai
Bahan Terkait Model-Model Pembelajaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar