SEJARAH
DAN ASAL USUL KETURUNAN DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN
HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Alpi Siswanto,S.Pd.H
Menurut
penuturan tokoh-tokoh yang ada di Desa Labuhan, pada zaman dahulu ada seorang
tokoh Dayak yang bernama Datu Mangintir. Mereka berasal dari Desa Rangkup,
pekerjaanya sebagai seorang petani dan pemburu binatang. Pada suatu hari Datu Mangitir
berburu bersama anjing kesayangannya. Setelah pergi agak jauh dari rumah,
beliau menemukan seekor binatang buruan yang kemudian di kejar oleh anjing
kesayangan tersebut. Namun binatang buruan itu sulit untuk ditangkap dan
akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama serta jarak dalam perjalanan yang
cukup jauh. Setelah melewati beberapa hutan belantara, tertangkaplah binatang
buruan itu, karena kelelahan Datu Mangintir tidak langsung pulang kerumah, namun
beristirahat terlebih dahulu.
Dalam
peristirahatan Datu Mangintir sambil memperhatikan daerah yang ada disekitarnya
yang berupa baruh (rawa) dan banyak
di tumbuhi tanaman Bangkal, sehingga
daerah itu diberi nama Baruh Bangkal. di
Baruh (rawa) tersebut beliau melihat
ada seekor ikan Haruan (Ikan Gabus)
yang kepalanya sudah ditumbuhi lumut. Menurut kepercayaan mereka, apabila
banyak terdapat pohon Bangkal dan
Ikan Haruan (ikan gabus) bahkan sampai
berlumut itu menandakan, daerah yang baik untuk tempat tinggal dan punya
potensi sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Setelah pulang beliau
menceritakan tentang daerah itu kepada keluarganya dan mengutarakan keinginanya
untuk pindah daerah yang baru yang ditemui itu. Setelah lama beliau menempati
daerah tersebut dan melahirkan beberapa generasi secara turun-temurun yang
akhirnya tempat itu menjadi terkenal dan mulai dimasuki oleh budaya luar.
Pada
jayanya kerajaan Banjar yaitu seorang pemimpin dari seluruh daerah yang ada
didaerah Kalimantan Selatan, Baruh Bangkal termasuk daerah yang diwajibkan
untuk membayar upeti (pajak). Upeti
(pajak) yang diharuskan berupa hasil pertanian dan hasil perkebunan dari
penduduk. Upeti dibayar setahun sekali kepada kerajaan Banjar.
Pada masa itu alat transfortasi darat, belum ada, sehingga untuk mengirim
barang kekerajaan adalah melalui sungai dan menggunakan alat transfortasi yang
berupa Lanting (Rakit) yang terbuat
dari pohon baru.
Sebelum
barang Upeti dari berbagai daerah itu
dikirimkan, terlebih dahulu dikumpulkan didaerah Baruh Bangkal yang kemudian di
labuh dan di kirim melalui sungai yang ada didaerah Baruh Bangkal, sehingga
daerah itu sering disebut sebagai pelabuhan dan banyak orang menyebut dearah
itu sebagai Labuhan yang akhirnya eksis sampai sekarang berubah menjadi nama
Desa Labuhan.
v Asal
Usul Keturunan Dayak Labuhan
Suku Dayak Labuhan berasal dari Balian Cuur (nama
seorang balian). Balian tersebut dianggap
sangat suci karena tidak mau mengerjakan hal-hal dilarang oleh nenek moyangnya,
seperti mencuri, berjudi dan sebagainya. Ada beberapa keturunan Balian Cuur yang
hidup pada masyarakat Desa Labuhan sebagai berikut:
1.
Mangku Karata
2.
Mangintir
3.
Pantinggi Anom
4.
Bangsi
5.
Gumara
6.
Pandani
7.
Rado
8.
Datu Anggarah
9.
Maharata
10.
Candau
11.
Kundai
12.
Surajaya
13.
Mahajaya Karti
14.
Singajaya
15.
Singa Gati
16.
Singa
17.
Raksa Jaya
18.
Raksa
19.
Tumanggung
20.
Aqam
21.
Hayat
22.
Ahmad
23.
Mahlan
24.
Kamrani
25.
Suriansyah
26.
Norifansyah
27.
Iduh
28.
Suan
Dari
dua puluh delapan silsilah keturunan Dayak Labuhan tersebut, dari nomor 1-19
adalah nama gelar karena kedudukan kepemimpinanya, sedangkan dari nomor 20-28
adalah nama orangnya yang menjadi pemimpin kepala adat dan kepala Desa yang
dipilih rakyat. Mangku Karata berasal dari Desa Pembakulan, mereka di angkat
menjadi pemimpin Desa Labuhan setelah Beliau berhasil mengusir pemberontak yang
tidak dikenal asal usulnya. Pada masa itu penduduk Labuhan sedang gelisah dan
dilanda kekacauan, karena daerahnya selalu didatangi oleh pemberontak, yang
setiap saat dating untuk memberontak hasil hutan, seperti kayu Ulin, Rotan dan
sebagainya yang ada di Desa Labuhan.
Merasa
tidak mampu untuk mengatasinya akhirnya penduduk Labuhan bermusyawarah untuk
mencari cara bagaimana mengatasi para pemberontak tersebut setelah bermusyawarah
akhirnya ada salah satu diantara penduduk yang berbicara dan menyampaikan
tentang mimpinya bahwa untuk mengatasi pemasalahan itu perlu minta bantuan
seseorang yang ada didesa pembakulan. Akhirnya pada saat itu juga mereka
mencari orang tersebut dengan maksud untuk meminta bantuan. Setelah sampai di
tempat tujuan mereka langsung menyampaikan maksud kedatanganya yang akhirnya Mangku
Karata setuju untuk membantu mereka. Sebelum Mangku Karata berangkat, ayahnya
menyarankan agar membawa gegaman (senjata sakti) berupa tombak dan terbuat dari
emas yang terletak di Gunung Hauk. Ayah Mangku Karata bersedia untuk
mengembalikan senjata tersebut, namun dengan jarak yang sangat jauh dan dengan
perjalananya hanya berjalan kaki, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.
Tidak sabar menunggu akhirnya Mangku Karata bersama rombonganya berangkat dan
hanya dengan membawa sebilah pisau Bahulu
Hiras (bergangang senyawa). Ketika di
tengah perjalanan mereka bertemu dengan para pemberontak yang sedang membawa
hasil hutan di Desa Labuhan, kemudian Mangku Karata menegurnya agar hasil hutan
itu tidak dibawa dan dikembalikan kepemiliknya.
Namun
para pemberontak menolak dan tetap
membawa hasil rampasan itu dan berlabuh
melalui sepanjang sungai yaitu dengan menggunakan alat transfortasi berupa lanting (rakit) yang terbuat dari
pohon bambu. Akhirnya Mangku Karata tidak sabar dengan menggunakan tenaga
dalamnya, Beliau memberhentikan perjalanan para pemberontak dan mengembalikan rakit itu kembali dengan
melawan arus sungai. Melihat kejadian itu para pemberontak ketakutan dan pergi
sehingga sampai sekarang tidak ada lagi yang berani merampas atau memberontak
di Desa Labuhan.
Karena itulah mangku Karata akhirnya diangkat
sebagai pemimpin di Desa Labuhan, meskipun beliau bukan merupakan penduduk
aslinya, dan akhirnya setelah wafat, Beliau gaib ke Gunung Pahiyangan ,dan
sebelumnya Beliau berpesan kepada keturunanya bahwa apabila membutuhkan atau
minta bantuan cukup memanggil namanya saja, maka beliau akan membantu, sehingga
masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan masih percaya dengan kekuatan Beliau
dan apabila masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan berada dalam kesusahan
atau pemasalahan yang tidak bisa teratasi sendiri, cukup dengan memanggil nama
Mangku Karata saja, maka dengan kekuatan gaib Beliau akan turun dan membantu orang yang lagi kesulitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar