Selasa, 14 Juni 2016

SEJARAH DAN ASAL USUL KETURUNAN DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

SEJARAH DAN ASAL USUL KETURUNAN DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Alpi Siswanto,S.Pd.H

Menurut penuturan tokoh-tokoh yang ada di Desa Labuhan, pada zaman dahulu ada seorang tokoh Dayak yang bernama Datu Mangintir. Mereka berasal dari Desa Rangkup, pekerjaanya sebagai seorang petani dan pemburu binatang. Pada suatu hari Datu Mangitir berburu bersama anjing kesayangannya. Setelah pergi agak jauh dari rumah, beliau menemukan seekor binatang buruan yang kemudian di kejar oleh anjing kesayangan tersebut. Namun binatang buruan itu sulit untuk ditangkap dan akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama serta jarak dalam perjalanan yang cukup jauh. Setelah melewati beberapa hutan belantara, tertangkaplah binatang buruan itu, karena kelelahan Datu Mangintir tidak langsung pulang kerumah, namun beristirahat terlebih dahulu.
Dalam peristirahatan Datu Mangintir sambil memperhatikan daerah yang ada disekitarnya yang berupa baruh (rawa) dan banyak di tumbuhi tanaman Bangkal, sehingga daerah itu diberi nama Baruh Bangkal. di Baruh (rawa) tersebut beliau melihat ada seekor ikan Haruan (Ikan Gabus) yang kepalanya sudah ditumbuhi lumut. Menurut kepercayaan mereka, apabila banyak terdapat pohon Bangkal dan Ikan Haruan (ikan gabus) bahkan sampai berlumut itu menandakan, daerah yang baik untuk tempat tinggal dan punya potensi sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Setelah pulang beliau menceritakan tentang daerah itu kepada keluarganya dan mengutarakan keinginanya untuk pindah daerah yang baru yang ditemui itu. Setelah lama beliau menempati daerah tersebut dan melahirkan beberapa generasi secara turun-temurun yang akhirnya tempat itu menjadi terkenal dan mulai dimasuki oleh budaya luar.
Pada jayanya kerajaan Banjar yaitu seorang pemimpin dari seluruh daerah yang ada didaerah Kalimantan Selatan, Baruh Bangkal termasuk daerah yang diwajibkan untuk membayar upeti (pajak). Upeti (pajak) yang diharuskan berupa hasil pertanian dan hasil perkebunan dari penduduk. Upeti  dibayar setahun sekali kepada kerajaan Banjar. Pada masa itu alat transfortasi darat, belum ada, sehingga untuk mengirim barang kekerajaan adalah melalui sungai dan menggunakan alat transfortasi yang berupa Lanting (Rakit) yang terbuat dari pohon baru.
Sebelum barang Upeti dari berbagai daerah itu dikirimkan, terlebih dahulu dikumpulkan didaerah Baruh Bangkal yang kemudian di labuh dan di kirim melalui sungai yang ada didaerah Baruh Bangkal, sehingga daerah itu sering disebut sebagai pelabuhan dan banyak orang menyebut dearah itu sebagai Labuhan yang akhirnya eksis sampai sekarang berubah menjadi nama Desa Labuhan.
v Asal Usul Keturunan Dayak Labuhan
Suku Dayak Labuhan berasal dari Balian Cuur (nama seorang balian). Balian tersebut  dianggap sangat suci karena tidak mau mengerjakan hal-hal dilarang oleh nenek moyangnya, seperti mencuri, berjudi dan sebagainya. Ada beberapa keturunan Balian Cuur yang hidup pada masyarakat Desa Labuhan sebagai berikut:
1. Mangku Karata
2. Mangintir
3. Pantinggi Anom
4. Bangsi
5. Gumara
6. Pandani
7. Rado
8. Datu Anggarah
9. Maharata
10. Candau
11. Kundai
12. Surajaya
13. Mahajaya Karti
14. Singajaya
15. Singa Gati
16. Singa
17. Raksa Jaya
18. Raksa
19. Tumanggung
20. Aqam
21. Hayat
22. Ahmad
23. Mahlan
24. Kamrani
25. Suriansyah
26. Norifansyah
27. Iduh
28. Suan
Dari dua puluh delapan silsilah keturunan Dayak Labuhan tersebut, dari nomor 1-19 adalah nama gelar karena kedudukan kepemimpinanya, sedangkan dari nomor 20-28 adalah nama orangnya yang menjadi pemimpin kepala adat dan kepala Desa yang dipilih rakyat. Mangku Karata berasal dari Desa Pembakulan, mereka di angkat menjadi pemimpin Desa Labuhan setelah Beliau berhasil mengusir pemberontak yang tidak dikenal asal usulnya. Pada masa itu penduduk Labuhan sedang gelisah dan dilanda kekacauan, karena daerahnya selalu didatangi oleh pemberontak, yang setiap saat dating untuk memberontak hasil hutan, seperti kayu Ulin, Rotan dan sebagainya yang ada di Desa Labuhan.
Merasa tidak mampu untuk mengatasinya akhirnya penduduk Labuhan bermusyawarah untuk mencari cara bagaimana mengatasi para pemberontak tersebut setelah bermusyawarah akhirnya ada salah satu diantara penduduk yang berbicara dan menyampaikan tentang mimpinya bahwa untuk mengatasi pemasalahan itu perlu minta bantuan seseorang yang ada didesa pembakulan. Akhirnya pada saat itu juga mereka mencari orang tersebut dengan maksud untuk meminta bantuan. Setelah sampai di tempat tujuan mereka langsung menyampaikan maksud kedatanganya yang akhirnya Mangku Karata setuju untuk membantu mereka. Sebelum Mangku Karata berangkat, ayahnya menyarankan agar membawa gegaman (senjata sakti) berupa tombak dan terbuat dari emas yang terletak di Gunung Hauk. Ayah Mangku Karata bersedia untuk mengembalikan senjata tersebut, namun dengan jarak yang sangat jauh dan dengan perjalananya hanya berjalan kaki, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak sabar menunggu akhirnya Mangku Karata bersama rombonganya berangkat dan hanya dengan membawa sebilah pisau Bahulu Hiras (bergangang senyawa). Ketika di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para pemberontak yang sedang membawa hasil hutan di Desa Labuhan, kemudian Mangku Karata menegurnya agar hasil hutan itu tidak dibawa dan dikembalikan kepemiliknya.
Namun para pemberontak  menolak dan tetap membawa hasil rampasan itu dan berlabuh  melalui sepanjang sungai yaitu dengan menggunakan alat transfortasi  berupa lanting (rakit) yang terbuat dari pohon bambu. Akhirnya Mangku Karata tidak sabar dengan menggunakan tenaga dalamnya, Beliau memberhentikan perjalanan para pemberontak  dan mengembalikan rakit itu kembali dengan melawan arus sungai. Melihat kejadian itu para pemberontak ketakutan dan pergi sehingga sampai sekarang tidak ada lagi yang berani merampas atau memberontak di Desa Labuhan.

Karena itulah mangku Karata akhirnya diangkat sebagai pemimpin di Desa Labuhan, meskipun beliau bukan merupakan penduduk aslinya, dan akhirnya setelah wafat, Beliau gaib ke Gunung Pahiyangan ,dan sebelumnya Beliau berpesan kepada keturunanya bahwa apabila membutuhkan atau minta bantuan cukup memanggil namanya saja, maka beliau akan membantu, sehingga masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan masih percaya dengan kekuatan Beliau dan apabila masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan berada dalam kesusahan atau pemasalahan yang tidak bisa teratasi sendiri, cukup dengan memanggil nama Mangku Karata saja, maka dengan kekuatan gaib Beliau akan turun dan membantu orang yang lagi kesulitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar