Jumat, 24 Juni 2016

SEJARAH ASAL-USUL UAPACARA ARUH PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

SEJARAH ASAL-USUL UAPACARA ARUH PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Pada jaman dahulu dijaman Nining Balian Rangan adalah seorang yang bernama Maharaja Kalih atau Datu Turun Angin hidup disebuah tempat kediamannya dengan istrinya yang bernama datu Mangkulung maka sangat rukun dan damai hidup bersuami istri tidak pernah terjadi pertengkaran. Dalam kehidupan rumah tangga mereka dikaruniai delapan anak laki-laki adapun nama masing-masing anak tersebut adalah:
1. AnginPanambai                5. Pambalah Batu
2. PangugurWarik                6. panimba Sagara
3. ParuntunManau                7. PamapasHaib
4. PamunggalTompo                        8. pamunggal munggu
Pendek cerita kedelapan anak laki-laki ini tumbuh dengan dewasa dan makannya dari hari kehari sangat banyak, sehingga kedua orang tuanya tidak sanggup lagi memberi makan lalu Maharaja Kalih dengan istrinya berunding untuk mencari jalan keluar guna memecahkan masalah ini dan demi kelangsungan anak-anaknya kedelapan bersaudara. Hal ini mengingat makan yang sangat banyak, sehingga hasil panen padi yang berlimpah ruah dari hasil perladangan yang seluas delapan buah gunung, delapan buah sungai yang seharusnya cukup untuk beberapa tahun, hanya dimakan beberapa hari sudah habis, maka mereka sepakat untuk membuang anak mereka ke arah Pangguguran atau ke arah mata hari tenggelam. Setelah sepakat maka ayahnya pun pergi menggajak anak-anaknya untuk berburu kedalam hutan dan tujuan mereka berburu kearah matahati tengelam atau kearah Panguguran. Pendek cerita perjalanan mereka semakin jauh kedalam hutan dan dipikirkan anaknya tidak ingat pulang, lalu sang ayah meninggalkan anak-anaknya di dalam hutan. Sesampai di rumah kata sang istri mana anak-anak kita, jawab sang suaminya mereka aku sesatkan didalam, sehinga tidak bersusah payah lagi untuk memberi makan anak-anak kita kata sang ayah.

tercerita anak-anak Maharaja Kalih didalam hutan, setelah hari menjelang sore mereka berkumpul kedelapan bersaudara dengan membawa hasil buruannya masing-masing. Diantaranya ada yang bertanya dimanakah kita ini, salah seorang menjawab entahlah aku juga tidak tau.Lalu kata Pamunggal Munggu apakah kakak semua tidak ada yang mengetahuinya dan mengerti maksud ayah mengajak berburu ke dalam hutan ini, jawab oleh saudara-saudaranya yang lain tidak, kami tidak mengetahuinya. Baiklah kata Pamunggal Munggu kalau memang tidak ada tahu sekarang saya terangkan maksud ayah membawa kita kedalam hutan adalah hanya lantaran orang tua kita tidak sanggup lagi untuk memberi makan dan sebagainya. Memeng sudah kehendak Nining Bahatara, beberapa diantara kita tidak mungkin kita semua lupa akan jalan pulang kemudian mereka sepakat untuk tingal disana dan mereka membuat api dengan cara memukul besi dengan batu keras, guna menghangatkan badan dan memasak daging hasil buruan. Selain itu mereka juga membuat tempat untuk berlindung yaitu pupundukan atau gubuk didalam hutan.

Pendek cerita pekerjaan delapan bersaudara ini hanya berburu saja dan dagingnya hanya dipanggang agar awet.Jadi setiap daging hasil buruan tersebut dipanggang supaya tidak cepat membusuk, maka keesokan harinya yang kedelapan bersaudara pergi berburu dan setelah pulang mereka masing-masing mancari panggangan guna menutup perut yang lapar. Pada suatu hari mereka menemukan sebuah ladang, di tengah ladang tersebut ada sebuah Balai. Setelah singahkebalai tersebut dan dipersilahkan masuk oleh pemilik Balai tersebut ternyata didalam Balai tersebut tingallah keluarga Jukut Garumbal Balakang dan dengan istrinya yang bernama Nining Kawayan yang memiliki delapan anak perempuan yang masih belia atau remaja.
Pembicaraan terus berlanjut dari hari ke hari dan saling menggenal satu satu sama lain berbulan-bulan waktu sudah berjalan mereka pun ingin menikahi anak Jukut Garumbal Belakang maka pada suatu hari si tamu (Pamunggal Munggu) mengutarakan maksud untuk melamar anak si punya Balai tersebut. Sekaligus juga melamarkan untuk kakak-kakaknya. Hal ini menggingat mereka sama-sama bersaudara delapan orang dan berpasangan menurut urutan lahir. Berkata si punya Balai yang paling bungsu katanya, kakak ini memang pandai mengatur dan seandainya kakak sendiri tak ada pasangannya bagaimana andaikata aku tidak ada pasangan tentu saja tidak mungkin kita dipertemukan oleh Nining Bahatara. Hari sampai sore dan si tamu mohon diri katanya, besok kami kesini lagi untuk menentukan hari baik untuk melaksanakan perkawinan setelah itu si tamu mohon diri keesokannya harinya pergilah Pamungal munggal bersama kakaknya ketempat dimana wanita muda tersebut itu tingal, sesampainya  disana mereka diterima dengan sopan dengan hormat.
Setelah disuguhi Panginangan atau (sirih, kapur, pinang dan lain-lainnya), makanan dan minuman, si tuan rumah bertanya pada sang tamu tentang maksud kedatangannya, jawab si tamu bahwa kedatangan nkmi ke siniyaitu ingin menyambung pembicaraan adiknya kemaren, bahwa kedatangannya ingin melamar semua anak Jukut Garumbal Balakang untuk dijadikan istri dari Pamungal Munggu serta juga untuk dijadikan istri dari saudara-saudaranya dan kami juga sepakat tentang pasangan kita menurut urutan lahir, yaitu: anak pertama dengan anak pertama, kedua dengan yang kedua demikian seterusnya. Berkata si tuan rumah kami setuju saja, Cuma kita tidak bisa berkumpul sebelum ada upacara perkawinan, kerena perbuatan itu  bertentangan dengan ajaran Agama dan merupakan berbuatan Rigat. Rupanya si tamu sudah tidak sabar untuk kawin dan siapa yang akan mengawinkan kita kata dari pihak laki-laki, jawaban dari pihak perempuan yang mengawinkan kita  ialah Balian Rangan.
Setelah itu mereka bersama-sama pergi ketempat Balian Rangan, dan setelah dikawinkan oleh Balian Rangan mereka memohon diri untuk pulang. Sesampainya dirumah sang istri mereka memasak nasi sedikit, lalu kata sang suami delapan bersaudara katanya, kalau memasak seperti ini tidak cukup bahkan saya sendiri pun tidak cukup kata Pamunggal Munggu, lalu kata sang istri, nanti kita liat kenyataannya. Setelah nasi masak sang suami ada yang mau loncat untuk mengambil nasi tersebut. Lalu sang istri berkata kakak tidak boleh dimakan terlebih dahulu kita harus melaksanakan Bahihimpat atau (yajna sesa) agar apa yang kita makan dapat memberikan kekuatan, kesehatan dan lain-lainya. Rupanya anak dari Jukut Garumbai Balakang yang bernama Dara Kawalu merupakan pengikut dari balian rangan tetapi ia hanya sebatas dari Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa. Adapun nama-nama dari anak Jukut Garumbal Balakang dari yang paling tua sampai yang paling tua yaitu:
1.              Dara kaasa                 5. Dara kalima
2.              Dara kadua                 6. Dara kaanam
3.              Dara katalu                 7. Dara kapitu
4.              Dara kaampat             8. Dara kawalu
Setelah mereka melaksanakan Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa mereka sekeluarga besar makan bersama tetapi baru sebentar suami mereka makan sudah berhenti dan suami mereka bilang sudah sangat kenyang sekali. Lalu istrinya berkata kepada suaminya nah kak katanya nasi kita tidak cukup, tetapi kenyataannya masih ada  yangtersisa.
Setelah itu lah para suami mereka percaya bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan kehadapan  Nining Bahatara akan mendapatkan berkat atas apa saja yang mereka makan dan yang mereka minum. Kemudian mereka semua juga melaksanakan upacara Aruh atas bimbingan para istrinya setelah itu merekapun  mempersiapkan segala kelengkapan dan saran-saran yang digunakan untuk melaksanakan upacara Aruh, dan setelah semua perlengkapan dan kelangkapan  untuk melaksanakan upacara Aruh mereka pergi ketempat Balian Rangan untuk melaksanakan upacara Aruh dan hanya Balian Ranganlah yang bisa melaksanakan upacara Aruh pada saat itu. Disanalah Balian Rangan Lanang menggajarkan tatacara upacara Aruh kepada para suami anak Jukut Garumbal Balakang sedangkan Balian Rangan Wadun juga mengajarkan kepada para istrinya untuk cara basaji atau membuat sesajian yang akan dipersembahkan kehadapan Nining Bahatara. Dan suami mereka langsung Dicacaki dioleskan kapur dibagian dada dan bagian lengan sebelah kanan seperti simbol angka tambah (+) oleh Balian Rangan, sebagai tanda bahwa mereka telah sah sebagai pengikut Balian Rangan dan menjadi Balian Tambai atau balian yang pertama kali menjadi murid Balian Rangan yang nantinya merekalah yang menyampaikan kepada umat manusia tentang ajaran-ajaran Balian.
Setelah upacara Aruh selesai dan suami anak Jukut Garumbal Balakang telah sah menjadi Balian lalu kata Balian Rangan  kepada istri-istri mereka bahwa suami kalian tidak seperti dulu lagi dan dia sudah seperti manusia biasa. Jadi mulai hari ini kalianlah yang yang meneruskan ajaran-ajaran ini semua kepada umat manusia, bahwa setelah padi dipanen tidak boleh dimakan harus diadakan upacara Aruh, sebagai tanda terima kasih kepada Nining Bahatara dan persembahan ini setahun sekali, tetapi kalian harus selalu ingat pada beliau untuk meminta petunjuk dan penerangan dalam kehidupan. Aku sejak ini tidak akan bersama kalian lagi, sabab aku mau pulang Kabalai Balian Tujuh Tingat Tujuh Ruang dan Tingat Kadalapan disebut Balai Basundan (Moksa), sekalian menunggu para pengikutku dan Harin Orang Pangaruh tapi bila kalian menghendaki aku datang cara untuk mendatangkan aku adalah dengan cara membakar kemeyan, Dahupa atau dupa namun disini ku tidak berwujud, hanya saja apabila bulu kuduk merinding berarti aku datang. Mengenai kalian semua ajaran Balian sudah lengkap ku ajarkan pada kalian, maka sejak hari ini pula kalian delapan bersaudara tidak boleh berkumpul seperti biasanya, karena di daerah lain banyak manusia yang membutuhkan ajaran ini dan perlunya bimbingan kalian dan kalian tidak beleh dalam satu daerah tinggal saudara yang lainnya atau dalam Bahasa Balianya Kada Tagapuk Kada Taraung Kada Uleh Baraja Dua. Setelah balian rangan berkata demikian maka dengan sekejap mata balian rangan pun menghilang dari tempatnya berbicara.
Setelah Balian Rangan berkata bahwa mereka harus menyebar dan menyebarkan ajaran-ajaran yang telah ia berikan kepada mereka maka mereka sebelum berpisah mereka makan bersama dirumah Jukut Garumbal Balakang pada saat itu juga mereka saling berpelukan dengan saudara-saudara mereka, mereka saling meminta maaf antara satu sama lain selama mereka bersama mungkin ada kata-kata yang menyingung persaan saudara-saudaranya dan mereka berjanji satu sama lain akan bertekat menjalankan ajaran-ajaran Balian seperti yang telah diajarkan oleh Balian Rangan kepada mereka dengan baik serta juga tidak melanggar ajaran-ajaran agama Hindu sama halnya dengan melaksanakan upacara Aruh setiap tahun.
Kembali kepada cerita Aruh, sebenarnya Maharaja kalih tidak mengenal adanya upacara Aruh dan tidak mengenal ajaran Nining Balian Rangan sebagaimana yang telah beliau ajarkan kepada pengikutnya namun anak-anak Maharaja Kalih sebelum pergi menyebarkan ajaran Balian mereka mencari tempat tinggal kedua orang tuanya setalah melewati bermacam-macam sungai dan hutan rimba pada akhirnya mereka bisa menemukan kedua orang tuanya walaupun dengan susah payah mereka mencarinya. Setelah mereka bertemu dengan orang tuanya merekanpun mengajarkan ajaran Balian kepada kedua orang tuanya walaupun hanya sebatas hanya Mahanyari yaitu tingkatan upacara Aruh yang paling sederhana setelah mereka mengajarkan upacara itu merekapun pergi ke berbagai daerah khususnya yang ada di daerah wilayah pegunungan Meratus.

Selasa, 14 Juni 2016

MAKALAH TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

MAKALAH

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET DAN
IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN




Oleh:
                                           Nama           : ALPI SISWANTO
                                           NIM             : 15 11 005
                                           Prodi            : Magister Pendidikan Agama Hindu
                                           Semester      : II (Dua)
                                           Jenjang        : Strata Dua (S.2)


 SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG PENYANG ( STAHN-TP )
PALANGKA RAYA
2016


KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Tabe Selamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya maka makalah ini dapat di selesaikan dengan tepat waktu sesuai dengan yang diharapkan oleh Bapak/Ibu Dosen Pegampu Mata Kuliah “Lamndasan Pembelajaran II” dengan judul: Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Implementasinya Dalam Pendidikan.
Penulis menyadari sesungguhnya di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kelancaran makalah yang berikutnya. Dan tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih atas semua pihak yang meluangkan waktunya dan memberikan sumbangan pikiran dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata penulis tidak lupa mengucapkan semoga Tuhan  Yang Maha Esa selalu menuntun, melindungi dan menuntun kita semua, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.dan semoga pemikiran yang bersifat positif, baik selalu datang dari segala arah.
Om Santih Santih Santih Om
Sahey.

                                                                                   Palangka Raya,    Mei 2016


Penyusun

DAFTAR ISI





BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengetahuan itu bukanlah salinan dari obyek dan juga bukan berbentuk kesadaran apriori yang sudah ditetapkan di dalam diri subyek, ia bentukan perseptual, oleh pertukaran antara organisme dan lingkungan dari sudut tinjauan biologi dan antara fikiran dan obyeknya menurut tinjauan kognitif Piaget (dalam Bringuier, 1980: 110)
Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal.
Perkembangan cara berfikir yang berlainan dari masa bayi sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra operasi, operasi kongkrit dan opersai formal. Proses dibentuknya setiap struktur yang lebih kompleks ini adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur oleh ekuilibrasi.
Piaget juga memberikan proses pembentukan pengetahuan dari pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman fisik atau pengetahuan eksogen, yang merupakan abstraksi dari ciri – ciri dari obyek, pengalaman logis matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui reorganisasi proses pemikiran anak didik . Sruktur tindakan, operasi kongkrit dan operasai formal dibangun dengan jalan logis – matematis.
Sumbangan bagi praktek pendidikan untuk karya – karya Piaget mengenali pengetahuan yang disosialisasikan dari sudut pandangan anak. Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa teorinya tidak memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran – pelajaran pokok seperti membaca dan menulis.

B. Rumusan Makalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas aka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan Kognitif?
2.      Bagaimanakan Prinsip dasar teori Piaget?
3.      Bagaimanakah Aspek inteligensi?
4.      Bagaimanakah Teori Perkembangan Piaget?
5.      Sepertiapakah Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran?

C. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalha ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apa yang dmaksud dengan Kognitif.
2.      Untuk mengetahui prinsip dasar teori Piaget.
3.      Untuk mengetahui aspek inteligensi.
4.      Untuk mengetahui teori Perkembangan Piaget.
5.      Untuk mengetahui implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran.

D. Metode Penulisan

Metode yang Digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu mengunakan metode keperpustakaan dimana dengan mengutip dari buku-buku yang ada hubungannya dengan permasalahan dan judul makalah ini.






 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pengertian Kognitif

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umumkognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspekkemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi). Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi proses-proses sendiri menjadi system - sistem yang koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan sosial.
Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

B. Prinsip Dasar Teori Piaget

Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis ( perkembangan jiwa). Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.
v  Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif, yaitu :
1.      Fisik
Interaksi antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.

2.      Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.      Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
4.      Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.

C. Aspek Inteligensi

Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :
1.        Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur & organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller) Dua hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif :
a.    Seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses.
b.    Lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembanga struktural.
  1. Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual.
  2. Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi: cenderung untuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas.
Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :
a)    Organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.
b)   Organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

D. Teori Perkembangan Piaget

Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.
Ø Tahap – tahap Perkembangan
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
1.      Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2.      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3.      Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4.      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
1.    Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial/persepsi penting dalam enam sub-tahapan:
a.    Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan kebiasaan.
c.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d.   Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f.     Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
2.      Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata.
Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain.
Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
3.      Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai.
Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah :
Pengurutan: kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi: kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering: anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility: anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi: memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme: kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
4.      Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Ø Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
·       Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
·       Universal (tidak terkait budaya)
·       Bisa digeneralisasi : representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
·       Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
·       Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
·       Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Ø  Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
a.    Berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
b.    Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
c.    Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks sosial  dan budaya , yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
d.   Menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.
e.    Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.
f.     Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini.
g.    Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

E. Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran

1.    Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.    Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3.    Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4.    Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5.    Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Ø Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
  1. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
  2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
  3. Tidak menekankan pada praktek - praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
  4. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.


BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :
1. Struktur, 2. Isi, 3. Fungsi
Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik.
Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik, bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

B.       Saran

Dunia pendidikan tidak lepas dari yang namanya guru dan siswa, seorang guru harus mampu memiliki kompetensi yang lebih memadai untuk menunjang proses pembelajaran yang aktif, keriatif, inopatif, dan menyanangkan.
Selain itu guru juga harus mampu memberikan rtimulus yang membuat siswa menjadi manusia yang seutuhnya. Siswa juga diharapkan mampu memberikan yang terbaik demi kemajuan dan keberhasilannya dalam menempuh pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA


 Anita Woolfolk, 2009, Educational Psychology, Active Learning Edition, Bagian Pertama, Edisi Bahasa Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

                            , 2009. Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

By Gina F & Balya Hulaimy, Ibid.

Margaret E. Bell Gredler1991, Belajar dan Membelajarkan, CV Rajawali UniversitasTerbuka

WikipediaVALMBANDLatar Belakang Jean Piagetarthachristianti. wordpress. com, Pembelajaran Guru, Berbagai Bahan Terkait Model-Model Pembelajaran