Jumat, 03 Juni 2016

PEMAKNAAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT HINDU

TUGAS ARTIKEL
PEMAKNAAN PENDIDIKAN DALAM
PERSPEKTIF FILSAFAT HINDU


Description: A:\Mr. SAS.jpg

 










Oleh:

                                           Nama                       : ALPI SISWANTO
                                           NIM                         : 15 11 005
                                           Jurusan                   : Pendidikan Agama Hindu
                                           Semester                  : I (Satu)
                                           Mata Kuliah           : Filsafat pendidikan
                                           Dosen Pengampu   : Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil




SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG PENYANG (STAHN-TP)
PALANGKA RAYA
2015


PEMAKNAAN PENDIDIKAN DALAM
PERSPEKTIF FILSAFAT HINDU

Tuhan yang diberikan label Maha Tahu dan Maha Pencipta, selain menciptakan manusia  dan alam semesta, Tuhan   memberikan pula agama wahyu. Agama Hindu sebagai agama wahyu, terkodifikasi dalam bentuk kitab suci Veda. Veda disertai dengan aneka teks tafsir, seperti   kitab Brahmana, Upanisad, Wiracarita, dan lain-lain sehinggmelahirkan seperangkat ajaran agama yang bersifat  Agama Hindu sangat kaya akan ide-ide filsafat, tidak saja tercermin pada ajarannya, tetapi juga pada munculnya aneka aliran filsafat dalam Agama Hindu.
Berkenaan dengan itu tidak mengherankan jika filsafat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Agama Hindu.Walaupun kaya akan filsafat, namun Agama Hindu tidak mengenal istilah filsafat, melainkan memakai istilah darshana. Istilah darshana disamakan dengan filsafat. Kata darshana berarti melihat atau mengalami. Pemaknaan seperti ini memberikan petunjuk, bahwa filsafat dalam konteks Agama Hindu, tidak hanya merupakan spekulasi  metafisika, tetapi  didasari  pula  oleh data langsung. Pengalaman langsung adalah sumber darimana pikiran India mengalir, dan ini diterima sebagai dasar filsafat di India .
Walaupun filsafat Hindu sangat menghargai olah pikiran dan pengalaman, namun ada aspek penting yang membedakannya, yakni penghargaan terhadap intuisi. Gejala ini berkaitan dengan hakikat manusia, yakni memiliki kesadaran supra yang memberikannya kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan secara intuitif  yang di dalamnya mencakup  olah rasa dan olah batin.
Jadi, dalam rangka mendapatkan pengetahuan, filsafat Hindu tidak hanya ber- muatan olah pikiran (rasionalisme) dan olah pengalaman (empirisme) atau memadukan wadah  rasional  dan  empiris  sebagaimana  yang lazim berlaku pada filsafat Barat, melainkan meminjam gagasan memperhatikan pula intusi yang di dalamnya mencakup kesadaran supra, olah rasa dan olah batin. Namun di balik pencarian kebenaran secara falsafati maka peran Agama Hindu  sebagai sumber kebenaran tidak bisa diabaikan. Agama Hindu adalah kebenaran yang berdimensi kewahyuan sehingga kualitasnya bersifat absolut dan tak tercampuri (murni).
Teks suci Veda dan tafsirnya, tidak saja memuat tentang tata kelakuan keagamaan, tetapi memuat pula aneka tata kelakuan sosial. antara lain tentang pendidikan. Cakupannya sangat luas dan kompleks sehingga bisa menjawab permasalahan pendidikan yang lazim dipertanyakan dalam filsafat pendidikan. Bertolak dari kenyataan ini tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa Agama Hindu mengenal filsafat pendidikan atau secara lebih spesifik bisa disebut Filsafat Pendidikan Hindu. Adapun gagasan Filsafat Pendidikan Hindu tentang hakikat pendidikan (Apa itu pendidikan?) adalah sebagai berikut.
Ø  Pendidikan adalah dewatanisasi insani
Manusia adalah makhluk pendidikan (homo educadum), sebab berkemampuan mendidik dan dididik. Begitu pula kelangsungan hidup manusia baik sebagai sistem organisme maupun kepribadiannya, dan sistem sosial bentukannya, bergantung pada pendidikan. Realitas ini disadari oleh Agama Hindu, terbukti dari kenyataan, bahwa Agama Hindu banyak mengkaji masalah pendidikan. Hal ini telah berlangsung sejak awal, terlihat pada ungkapan-ungkapan teks kuno sebagai berikut.
1.      Sa vidya ya vimuktaye
(Pembelajaran adalah yang membebaskan manusia)
2.       Vidya tritiyo netrah
(Pembelajaran seperti mata ketiga)
3.      Vidyayamrihtamashnute
(Pembelajaran membuat manusia abadi)
4.      N h jnanen   sadrisnha pavitramih vidyate
(Tidak ada yang lebih murni di dunia ini daripada pengetahuan)
5.      Vidya balam chandrabalamstathaiva (Mudah-mudahan  kekuatan  pengetahuan dan  kekuatan bulan  menganugrahi kamu sekalian)
6.      Vidya gurunam guruh
(Pengetahuan merupakan gurunya guru)
7.      Kim kim na sadhyati Kalpalateva vidya
(Apa yang tidak dijumpai oleh pembe- lajaran itu? Ia merupakan sebuah tumbuhan magis atau pohon kebijaksanaan)
8.      Vidya vihinah pashuh
(Seseorang yang tanpa pembelajaran adalah binatang)
Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa Agama Hindu sangat menghargai pentingnya pengetahuan bagi kehidupan manusia. Gagasan ini sangat tepat, terbukti dari adanya kenyataan, bahwa pada era postmodern atau pasca kapitalis saat ini, sumber ekonomi dasar tidak lagi alat- alat  produksi,  modal,  daya  alam,  dan  tenaga kerja, melainkan pengetahuan. Begitu pula keunggulan negara negara-negara kapitalis global tidak bisa dilepaskan dari ke- mahakayaan modal (ilmu) pengetahuan yang diaktualisasikan dalam berbagai produk teknologi canggih.  Perolehan pengetahuan didapat melalui pembelajaran. Kemampuan belajar merupakan aspek  penting  bagi  eksistensi  manusia,  tidak hanya karena belajar adalah pintu gerbang bagi pengetahuan, tetapi juga karena   kemampuan belajar adalah aspek penting yang membedakan manusia daripada binatang.
Agama Hindu menyebut pendidikan dengan istilah aguron- aguron atau asewakadharma.   Pendidikan bisa dilakukan di sekolah atau   pada zaman Veda disebut  sakha  atau  patasala.  Pada  masyarakat Bali mengenal istilah asrama, pasraman atau katyagan. Apa pun nama lembaga pendidikan, baik asrama maupun sekolah, pasti memiliki tujuan.
Apabila kita kaji tentang makna pendidikan mengandung arti mengantarkan seorang anak menuju ke tingkat dewasa atau kedewasaan. maka kata dewasa ini dapat dikaji maknanya dengan kata  dewa  atau  devata,  dimaksudkan seorang itu dalam perilakunya sudah memiliki sifat-sifat kedewataan (Daiwisampat), karena kata dewasa (dewasya) berasal dari kosa kata bahasa Sansekerta, yang artinya memiliki sifat dewa, juga berarti yang bercahaya, tentu diharapkan perilaku anak mengikuti ajaran ketuhanan atau memancarkan nilai-nilai ketuhanan, tidak sebaliknya dikuasai oleh sifat- sifat  keraksasaan (Asurisampat).Dengan demikian, dilihat dari makna kata dewasa, maka tujuan pendidikan bukanlah menjadikan peserta didik agar dewasa dalam arti perkembangan badaniah, tetapi lebih mengarah kepada menjadikan insan berkarakter kedewataan (dai- wisampat) atau divine human yang sekaligus berarti mencegah kehadiran manusia berkarakter keraksasaan (asurisampat) atau demonic human.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa Agama Hindu memiliki Filsafat Pendidikan Hindu yang bersumberkan pada Veda dan teks tafsirnya, dikombinasikan dengan rasionalisme,  empirisme  dan  intuisi  sehingga kebenaran yang didapat juga bersifat metafisik. Topik-topik yang lazim dikaji dalam filsafat pendidikan ada di dalam Agama Hindu, di antaranya adalah pendidikan. Agama Hindu menggariskan, bahwa hakikat adalah proses untuk mewujudkan manusia berkarakter kedewataan, daiwisampat, divine human atau Pandawaisme. Sebaliknya, mencegah timbulnya manusia yang berkarakter keraksasaan, asurisampat, demonic human atau Korawaisme. Berkenaan dengan itu maka hakikat, proses, dan tujuan pendidikan dalam perspektif Filsafat Pendidikan Hindu bisa disebut sebagai dewatanisasi insani atau deraksasanisasi insani.

1 komentar: