Jumat, 03 Juni 2016

MULTIKULTURALISME YANG TERKANDUNG DALAM KONSEP TRI KAYA PARISUDA DAN PANCA SIDHIARTA

PAPER

STUDI AGAMA HINDU II
MULTIKULTURALISME YANG TERKANDUNG DALAM KONSEP TRI KAYA PARISUDA DAN PANCA SIDHIARTA



Oleh:
                                 Nama                : ALPI SISWANTO
         NIM                  : 15 11 005
                                 Prodi                 : Magister Pendidikan Agama Hindu
                                 Semester           : II (Dua)
                                 Jenjang             : Strata Dua (S.2)


 SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG PENYANG ( STAHN-TP )
PALANGKA RAYA
2016


BAB I PENDAHULUAN

Peradaban Hindu di dunia sangatlah bekembang pesat, hingga saat sekarang ini agama Hindu di dunia telah menimbulkan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah perkembangan kehidupan beragama. Pengaruh yang terjadi di dunia barat tersebut menyabar kesuluruh penjuru dunia sehingga agama Hindu dikenal dimata dunia. Khususnya di Negara India agama Hindu sangatlah berkembang pesat dan di Negara india tersebutlah yang merupakan asal mula agama Hindu ada sehingga menyebar keseluruh penjuru dunia.
Indonesia mengakui bahwa adanya agama Hindu, peradaban Hindu di Indonesia pertama kali berkembang yaitu di daerah Kalimantan Timur tepatnya di kerajaan Kutai yang merupaka kerajaan tertua Hindu yang diakui sejarah sampai saat ini, setelah itu agama Hindu menyebar keseluruh pulau yang ada di Indonesia tercinta ini. Agama Hindu di Indonesia dalam setiap kegiatan keagamaannya terkenal perbedaan-perbedaan dalam persepsinya. Perbedaan yang terjadi merupakan hasil dari berbedanya kenyakinan terhadap tempat, waktu dan keadaan dimana dia berada, misalnya di pulau Bali saja terdapat perbedaan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan dengan Hindu yang di Kalimantan. Perbedaan tersebut yang menjadikan keanekaragaman agama Hindu di setiapa wilayah di Indonesia ini. Keanekaragaman atau yang di sebut juga dengan mulitikulturisme inilah yang menjadikan agama Hindu penuh dengan keragaman budaya yang berpariasi.
Multikultur ini juga mejadikan umat Hindu memiliki perbedaan dengan umat yang lainnya, yang nantinya akan terjadi sebuah perpaduan yang menarik dalam sebuah upacara kagaman dan bahkan juga terjadi hal yang buruk terjadi konflik antara umat Hindu itu sendiri nantinya, karena perbedaan persefsi tentang pelaksanaan upacara keagamaan tersebut.
Berawal dari masalah itulah, maka dalam penulisan  ini akan di bahas masalah mengenai, multikulturisme yang terkandung dalam konsep Tri Kaya Parisudha dan multikulturisme yang terdapat dalam konsep Panca Sidhiarta.

II PEMBAHASAN                                                     

1.    Multikulturisem dalam Konsep Tri Kaya Parisudha
Kata Tri Kaya Parisudha dapat diartikan sebagai berikut : "Tri artinya tiga, Kaya artinya perbuatan dan Parisudha artinya suci atau benar. Jadi Tri Kaya Parisudha dapat diartikan : tiga perbuatan yang suci atau tiga perbuatan yang harus disucikan" (Suhardana, 2010: 42). Tiga perbuatan yang harus disucikan tersebut adalah : Manacika, Wacika dan Kayika. Hal ini dapat dipetik dari Manawa Dharma Sastra sloka 73 sebagai berikut :
                   "Hana karma phata ngaranya, kahrtaning, india sepuluh kwehnya, ulahaken                                         kramanya, prawr Hyaning manak sekareng, telu kwehnya, ulahaning wak, pat                                      prawrttyangning kaya, telu, pinda sapuluh, prawrttyaning kaya, wakmanah kengeti".

                    Artinya:
                  Adalah karma phala namanya, yaitu mengendalikan hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut                     dilakukan, perinciannya, gerak pikiran tiga banyaknya, gerak perkataan empat jumlahnya,                             perbuatan yang timbul dari gerakan badan tiga banyaknya, jadi sepuluh banyaknya yang timbul                     dari gerakan pikiran, perkataan dan gerakan badan inilah yang patut betul-betul diperhatikan
                  (G. Pudja, 2012: 61).

Seloka tersebut di atas menjelaskan bahwa bagian dari pikiran, perkataan dan perbuatan masing-masing memiliki bagian yang keseluruhannya manjadi sepuluh bagian. Jadi kesepuluh bagian yang timbul dari pikiran, perkataan dan perubuatan inilah yang sepatutnya kita jaga dan kita perhatikan secara baik dan dikendalikan secara baik.
Kehidupan yang dialami manusia yang satu dengan manusia yang lainnya diharapkan yang baik itu selalu dibiasakan misalnya pemikiran, perkataan dan perbuatan yang menentukan manusia didalam hidupnya berupa Dharma laksana budhi pekerti yang tentu arah tujuannya dan bahagia untuk diri-sendiri dan untuk orang lain.
Beberapa penjelasan tersebut di atas, tentang pengertian Tri Kaya Parisudha adalah tiga pengendalian prilaku manusia ke jalan yang benar. Dalam hal tersebut umat Hindu telah menyadarinya mana dikatakan baik atau mana dikatakan tidak baik.
Sedangkan yang dimaksud dengan Multikulturalisme secara etimologis dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komonitasnya dengan kebudayan masing yang unuk, (Mahfud, 2011: 75). Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa multikulturalisme yaitu sistem kebudayaan yang berbeda-beda atau keanekaragaman budaya.
Berdasarkan beberapa penegrtian tersebut sebelumnya maka dalam konsep Tri Kaya Parisudha ini, yang bagiannya terdiri dari, Manacika (pikiran), Wacika (perkataan) dan Kayika (gerak/perbuatan). Bagian-bagian Tri Kaya Parisudha tersebut apabila kita lihat menggunakan multikulturalisme, maka dapat kita ketahui bahwa konsep Tri Kaya Parisudha ini memiliki nilai multikultur. Dikatakan multikulturalisme karena setiap umat Hindu dimanapun berada selalu berusaha mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan untuk kearah yang baik, selain itu juga pikiran merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia dimanapun berada memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan pikiran juga yang mempengaruhi manusia untuk berbicara berbeda dengan manusia satu dengan yang lain srta dalam berbuat untuk menghasilkan sebuah kegiatan atau aktivitas yang berbeda dari yang lain-lainya.
Selain itu konsep Tri Kaya Parisudha ini merupakan penyebab umat Hindu memiliki keanekaragaman atau multikulturalisme yang sangat signifikan dikenal oleh mata dunia. Agama Hindu dengan Tri Kaya Parisudha juga dikatakan agama yang universal dikernakan keanakaragaman yang diciptakan oleh pemikiran manusia yang berbeda, bahasa atau perkataan yang berbeda sehingga menghasilkan gerak atau perbuatan yang berbeda-beda pula dalam setiap daerah di Indonesia ini.

2.        Multikulturisme dalam Konsep Panca Sidhiarta (Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Patra/Tattwa)
Ajaran agama Hindu sangat banyak memiliki konsep-konsep diantaranya konsep, Iksa (tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Patra (keadaan/keberadaan), yang sesunggunya sangat sesuai dengan konsep Veda, seperti apa yang dijelaskan dalam Manavadharmasastra VII.10, yaitu:
              “Karyam so’veksya saktimca
               desakalan ca tattvatah
               kurute dharmasiddhiyartham
               visvarupam punah punah”

Artinya:
“ Setelah mempertimbangkan sepenuhnya maksud, kekuatan dan tempat serta waktu, untuk mencapai keadilan ia menjadikan dirinya menjadi bermacam wujudnya, untuk mencapai keadilan yang sempurna” Pudja, (2012: 355)

Dari sloka di atas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan maka setiap aktivitas keagamaan harus dilaksanakan sesuai dengan
1.        Iksa, yaitu tujuan dari upacara tersebut harus diketahui dengan jelas, sehingga arah pelaksanaan upacara dapat bejalan dengan baik
2.        Sakti, artinya dalam melaksankan upacara keagamaan harus mengukur kemampuan atau kekuatan, baik financial maupun pemahaman terhadap upacara tersebut. Sehingga tidak ada  kesan bahwa upacara tersebut  sebagai pemborosan.
3.        Desa, yaitu tempat dimana upacara dilangsungkan, upacara di Bali tidak harus  sama dengan upacara di luar Bali. Upacara harus  disesuaikan dengan kondisi dan potensi wilayah setempat.
4.        Kala, yaitu waktu pelaksanaan upacara juga harus mendapatkan perhatian sehingga upacara tersebut memiliki daya manfaat, sehingga harus dilaksankan dengan efisien, efektif dan bermanfaat.
5.        Patra yaitu keadaan dalam pelaksanaan upacara harus melihat keadaan atau kondisi alam sekitar atau melihat kondisi dimana kita berada sehingga dalam pelaksanaan upacara berjalan dengan hikman dan penuh penghayatan.
Penjelasan tersebut dapat kita ketahui bahwa Iksa berarti dalam setiap upacara keagamaan umat Hindu dimana saja berada selau memiliki sebuah tujuan untuk siapa upacara itu dilaksanakan harus memiliki tujuan yang jelas. Sakti merupakan umat Hindu baik dimana saja berada dalam melaksanakan kegiatan keagamaan tentunya menyesuaikan kemampuan material sehingga tidak terlihat seperti pemborosan. Dasa merupakan tempat, dalam setiap pelaksanaan upacara keagamaan, umat Hindu tidak bisa menyamakan daerah yang satu dengan daerah yang lain. Kala atau waktu, berkaitan dengan waktu umat Hindu dimanapun berada pada saat pelaksanaaan upacara keagamaan pasti mencari atau menentukan waktu yang tepat, sehingga dalam setiap kegiatan upacara keagamaan terlaksana sesuai apa yang diharapkan. Selanjutnya Patra/keadaaan umat Hindu tidak bisa melaksanakan upacara keagamaan harus sama dengan umat Hindu yang secara umum di Bali misalnya. Umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan keagamaan menyesuaikan kondisi dimana berada sehingga terjadinya perbedaan dalam tata cara, sesajen yang dibuat pada pelaksanaan upacara.
Berdasarkan konsep ajaran agama Hindu tersebut maka, dalam konsep Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Patra ini sehingga agama hindu memiliki keanekaragaman budaya atau multikulturalisme yang sangat unik. Keunikan yang terjadi pada agama Hindu ini disebapkan oleh adanya keberadaan tempat, waktu dan kondisi dimana agama Hindu itu berada sehingga menyesuaikan dengan keadaan dimana berada maka terjadilah perbedaan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Pada intinya dalam konsep ini terdapat nilai multikulturalisme dikernakan agama Hindu berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lainnya itu semua disebabkan oleh konsep Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Patra dalam ajaran agama Hindu.

III PENUTUP

Berdasarkan beberapa pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, konsep Tri Kaya Parisudha pada ajaran agama Hindu merupakan hal yang sederhana akan tetapi memiliki nilai keberagaman budaya atau multikulturalisme. Misalnya dalam ajaran ini umat manusia semuanya dipengaruhi oleh pikiran, dari pikiran lah sehingga berbuah sebuah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan umat Hindu yang memiliki persepsi berbeda namun tujuannya sama yaitu mencapai moksa (kebahagiaan yang abadi. Sehingga menyebabkan terjadinya keanekaragaman budaya yang sangat unik di mata dunia.
Selanjutnya konsep Panca Sidhiarta ( Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Patra), agama Hindu merupakan agama yang memiliki keanakaragaman yang sangat unik. Perbedaan yang terjadi dikernakan oleh agama Hindu dimanapun dia berada selalu menyesuaikan kemampuan, tujuan,  tempat, waktu dan keadaan dimana agama Hindu itu berada.

DAFTAR PUSTAKA

Mahfud, Choirul, 2011. Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR OFFSET.

G. Puja dan Tjokorda Rai Sudharta, 2012. Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) Atau Weda Smrti Compendium Hindu, Denpasar: Widya Dharma.


Suhardana, Komang, 2010. Kerangka Dasar Agama Hindu, Surabaya: Paramita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar