SEJARAH ASAL-USUL UAPACARA ARUH PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Pada
jaman dahulu dijaman Nining Balian Rangan
adalah seorang yang bernama Maharaja Kalih
atau Datu Turun Angin hidup
disebuah tempat kediamannya dengan istrinya yang bernama datu Mangkulung maka sangat rukun dan damai hidup bersuami istri tidak
pernah terjadi pertengkaran. Dalam kehidupan rumah tangga mereka dikaruniai
delapan anak laki-laki adapun nama masing-masing anak tersebut adalah:
1. AnginPanambai 5. Pambalah Batu
2. PangugurWarik 6. panimba Sagara
3. ParuntunManau 7. PamapasHaib
4. PamunggalTompo 8. pamunggal munggu
Pendek cerita kedelapan anak laki-laki ini tumbuh dengan dewasa dan
makannya dari hari kehari sangat banyak, sehingga kedua orang tuanya tidak
sanggup lagi memberi makan lalu Maharaja Kalih
dengan istrinya berunding untuk mencari jalan keluar guna memecahkan masalah
ini dan demi kelangsungan anak-anaknya kedelapan bersaudara. Hal ini mengingat
makan yang sangat banyak, sehingga hasil panen padi yang berlimpah ruah dari
hasil perladangan yang seluas delapan buah gunung, delapan buah sungai yang
seharusnya cukup untuk beberapa tahun, hanya dimakan beberapa hari sudah habis,
maka mereka sepakat untuk membuang anak mereka ke arah Pangguguran atau ke arah mata hari tenggelam. Setelah sepakat maka
ayahnya pun pergi menggajak anak-anaknya untuk berburu kedalam hutan dan tujuan
mereka berburu kearah matahati tengelam atau kearah Panguguran. Pendek cerita perjalanan mereka semakin jauh kedalam
hutan dan dipikirkan anaknya tidak ingat pulang, lalu sang ayah meninggalkan
anak-anaknya di dalam hutan. Sesampai di rumah kata sang istri mana anak-anak
kita, jawab sang suaminya mereka aku sesatkan didalam, sehinga tidak bersusah
payah lagi untuk memberi makan anak-anak kita kata sang ayah.
tercerita anak-anak Maharaja Kalih
didalam hutan, setelah hari menjelang sore mereka berkumpul kedelapan
bersaudara dengan membawa hasil buruannya masing-masing. Diantaranya ada yang
bertanya dimanakah kita ini, salah seorang menjawab entahlah aku juga tidak
tau.Lalu kata Pamunggal Munggu apakah
kakak semua tidak ada yang mengetahuinya dan mengerti maksud ayah mengajak
berburu ke dalam hutan ini, jawab oleh saudara-saudaranya yang lain tidak, kami
tidak mengetahuinya. Baiklah kata Pamunggal
Munggu kalau memang tidak ada tahu sekarang saya terangkan maksud ayah
membawa kita kedalam hutan adalah hanya lantaran orang tua kita tidak sanggup
lagi untuk memberi makan dan sebagainya. Memeng sudah kehendak Nining Bahatara, beberapa diantara kita
tidak mungkin kita semua lupa akan jalan pulang kemudian mereka sepakat untuk
tingal disana dan mereka membuat api dengan cara memukul besi dengan batu
keras, guna menghangatkan badan dan memasak daging hasil buruan. Selain itu
mereka juga membuat tempat untuk berlindung yaitu pupundukan atau gubuk didalam hutan.
Pendek cerita pekerjaan delapan bersaudara ini hanya berburu saja dan
dagingnya hanya dipanggang agar awet.Jadi setiap daging hasil buruan tersebut
dipanggang supaya tidak cepat membusuk, maka keesokan harinya yang kedelapan
bersaudara pergi berburu dan setelah pulang mereka masing-masing mancari
panggangan guna menutup perut yang lapar. Pada suatu hari mereka menemukan
sebuah ladang, di tengah ladang tersebut ada sebuah Balai. Setelah
singahkebalai tersebut dan dipersilahkan masuk oleh pemilik Balai tersebut ternyata
didalam Balai tersebut tingallah keluarga Jukut
Garumbal Balakang dan dengan istrinya yang bernama Nining Kawayan yang memiliki delapan anak perempuan yang masih
belia atau remaja.
Pembicaraan terus berlanjut dari hari ke hari dan saling menggenal satu
satu sama lain berbulan-bulan waktu sudah berjalan mereka pun ingin menikahi
anak Jukut Garumbal Belakang maka
pada suatu hari si tamu (Pamunggal Munggu)
mengutarakan maksud untuk melamar anak si punya Balai tersebut. Sekaligus juga
melamarkan untuk kakak-kakaknya. Hal ini menggingat mereka sama-sama bersaudara
delapan orang dan berpasangan menurut urutan lahir. Berkata si punya Balai yang
paling bungsu katanya, kakak ini memang pandai mengatur dan seandainya kakak
sendiri tak ada pasangannya bagaimana andaikata aku tidak ada pasangan tentu
saja tidak mungkin kita dipertemukan oleh Nining
Bahatara. Hari sampai sore dan si tamu mohon diri katanya, besok kami
kesini lagi untuk menentukan hari baik untuk melaksanakan perkawinan setelah
itu si tamu mohon diri keesokannya harinya pergilah Pamungal munggal bersama kakaknya ketempat dimana wanita muda
tersebut itu tingal, sesampainya disana
mereka diterima dengan sopan dengan hormat.
Setelah disuguhi Panginangan
atau (sirih, kapur, pinang dan lain-lainnya), makanan dan minuman, si tuan
rumah bertanya pada sang tamu tentang maksud kedatangannya, jawab si tamu bahwa
kedatangan nkmi ke siniyaitu ingin menyambung pembicaraan adiknya kemaren,
bahwa kedatangannya ingin melamar semua anak Jukut Garumbal Balakang untuk dijadikan istri dari Pamungal Munggu serta juga untuk
dijadikan istri dari saudara-saudaranya dan kami juga sepakat tentang pasangan
kita menurut urutan lahir, yaitu: anak pertama dengan anak pertama, kedua
dengan yang kedua demikian seterusnya. Berkata si tuan rumah kami setuju saja,
Cuma kita tidak bisa berkumpul sebelum ada upacara perkawinan, kerena perbuatan
itu bertentangan dengan ajaran Agama dan
merupakan berbuatan Rigat. Rupanya si
tamu sudah tidak sabar untuk kawin dan siapa yang akan mengawinkan kita kata
dari pihak laki-laki, jawaban dari pihak perempuan yang mengawinkan kita ialah Balian
Rangan.
Setelah itu mereka bersama-sama pergi ketempat Balian Rangan, dan setelah dikawinkan oleh Balian Rangan mereka memohon diri untuk pulang. Sesampainya dirumah
sang istri mereka memasak nasi sedikit, lalu kata sang suami delapan bersaudara
katanya, kalau memasak seperti ini tidak cukup bahkan saya sendiri pun tidak
cukup kata Pamunggal Munggu, lalu
kata sang istri, nanti kita liat kenyataannya. Setelah nasi masak sang suami
ada yang mau loncat untuk mengambil nasi tersebut. Lalu sang istri berkata
kakak tidak boleh dimakan terlebih dahulu kita harus melaksanakan Bahihimpat atau (yajna sesa) agar apa
yang kita makan dapat memberikan kekuatan, kesehatan dan lain-lainya. Rupanya
anak dari Jukut Garumbai Balakang
yang bernama Dara Kawalu merupakan
pengikut dari balian rangan tetapi ia hanya sebatas dari Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa. Adapun nama-nama dari anak
Jukut Garumbal Balakang dari yang
paling tua sampai yang paling tua yaitu:
1.
Dara kaasa 5. Dara kalima
2.
Dara kadua 6. Dara kaanam
3.
Dara katalu 7. Dara kapitu
4.
Dara kaampat 8. Dara kawalu
Setelah mereka melaksanakan Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa mereka
sekeluarga besar makan bersama tetapi baru sebentar suami mereka makan sudah
berhenti dan suami mereka bilang sudah sangat kenyang sekali. Lalu istrinya
berkata kepada suaminya nah kak katanya nasi kita tidak cukup, tetapi
kenyataannya masih ada yangtersisa.
Setelah itu lah para suami mereka percaya
bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan kehadapan Nining Bahatara
akan mendapatkan berkat atas apa saja yang mereka makan dan yang mereka minum.
Kemudian mereka semua juga melaksanakan upacara Aruh atas bimbingan para istrinya setelah itu merekapun mempersiapkan segala kelengkapan dan
saran-saran yang digunakan untuk melaksanakan upacara Aruh, dan setelah semua perlengkapan dan kelangkapan untuk melaksanakan upacara Aruh mereka pergi ketempat Balian Rangan untuk melaksanakan upacara
Aruh dan hanya Balian Ranganlah yang bisa melaksanakan upacara Aruh pada saat itu. Disanalah Balian Rangan Lanang menggajarkan
tatacara upacara Aruh kepada para
suami anak Jukut Garumbal Balakang
sedangkan Balian Rangan Wadun juga
mengajarkan kepada para istrinya untuk cara basaji atau membuat sesajian yang
akan dipersembahkan kehadapan Nining Bahatara.
Dan suami mereka langsung Dicacaki dioleskan
kapur dibagian dada dan bagian lengan sebelah kanan seperti simbol angka tambah
(+) oleh Balian Rangan, sebagai tanda
bahwa mereka telah sah sebagai pengikut Balian Rangan dan menjadi Balian Tambai
atau balian yang pertama kali menjadi murid Balian Rangan yang nantinya merekalah yang menyampaikan kepada umat
manusia tentang ajaran-ajaran Balian.
Setelah upacara Aruh selesai dan suami anak Jukut
Garumbal Balakang telah sah menjadi Balian
lalu kata Balian Rangan kepada istri-istri mereka bahwa suami kalian tidak
seperti dulu lagi dan dia sudah seperti manusia biasa. Jadi mulai hari ini
kalianlah yang yang meneruskan ajaran-ajaran ini semua kepada umat manusia,
bahwa setelah padi dipanen tidak boleh dimakan harus diadakan upacara Aruh, sebagai tanda terima kasih kepada Nining Bahatara dan persembahan ini
setahun sekali, tetapi kalian harus selalu ingat pada beliau untuk meminta
petunjuk dan penerangan dalam kehidupan. Aku sejak ini tidak akan bersama
kalian lagi, sabab aku mau pulang Kabalai
Balian Tujuh Tingat Tujuh Ruang dan Tingat Kadalapan disebut Balai Basundan (Moksa), sekalian
menunggu para pengikutku dan Harin Orang
Pangaruh tapi bila kalian menghendaki aku datang cara untuk mendatangkan
aku adalah dengan cara membakar kemeyan, Dahupa
atau dupa namun disini ku tidak berwujud, hanya saja apabila bulu kuduk
merinding berarti aku datang. Mengenai kalian semua ajaran Balian sudah lengkap ku ajarkan pada kalian, maka sejak hari ini
pula kalian delapan bersaudara tidak boleh berkumpul seperti biasanya, karena
di daerah lain banyak manusia yang membutuhkan ajaran ini dan perlunya
bimbingan kalian dan kalian tidak beleh dalam satu daerah tinggal saudara yang
lainnya atau dalam Bahasa Balianya Kada Tagapuk
Kada Taraung Kada Uleh Baraja Dua. Setelah balian rangan berkata demikian
maka dengan sekejap mata balian rangan pun menghilang dari tempatnya berbicara.
Setelah Balian Rangan berkata bahwa mereka harus menyebar dan menyebarkan
ajaran-ajaran yang telah ia berikan kepada mereka maka mereka sebelum berpisah
mereka makan bersama dirumah Jukut Garumbal
Balakang pada saat itu juga mereka saling berpelukan dengan saudara-saudara
mereka, mereka saling meminta maaf antara satu sama lain selama mereka bersama
mungkin ada kata-kata yang menyingung persaan saudara-saudaranya dan mereka
berjanji satu sama lain akan bertekat menjalankan ajaran-ajaran Balian seperti yang telah diajarkan oleh
Balian Rangan kepada mereka dengan baik
serta juga tidak melanggar ajaran-ajaran agama Hindu sama halnya dengan melaksanakan
upacara Aruh setiap tahun.
Kembali kepada cerita
Aruh, sebenarnya Maharaja kalih tidak mengenal adanya upacara Aruh dan tidak mengenal ajaran Nining
Balian Rangan sebagaimana yang telah beliau ajarkan kepada pengikutnya
namun anak-anak Maharaja Kalih
sebelum pergi menyebarkan ajaran Balian mereka mencari tempat tinggal kedua
orang tuanya setalah melewati bermacam-macam sungai dan hutan rimba pada
akhirnya mereka bisa menemukan kedua orang tuanya walaupun dengan susah payah
mereka mencarinya. Setelah mereka bertemu dengan orang tuanya merekanpun
mengajarkan ajaran Balian kepada kedua orang tuanya walaupun hanya sebatas
hanya Mahanyari yaitu tingkatan
upacara Aruh yang paling sederhana
setelah mereka mengajarkan upacara itu merekapun pergi ke berbagai daerah
khususnya yang ada di daerah wilayah pegunungan Meratus.
