TUGAS
ARTIKEL
PEMAKNAAN PENDIDIKAN
DALAM
PERSPEKTIF FILSAFAT
HINDU
Oleh:
Nama : ALPI SISWANTO
NIM : 15 11 005
Jurusan : Pendidikan Agama Hindu
Semester : I (Satu)
Mata
Kuliah : Filsafat pendidikan
Dosen
Pengampu : Prof. Drs. I Ketut
Subagiasta, M.Si., D.Phil
SEKOLAH
TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG
PENYANG (STAHN-TP)
PALANGKA
RAYA
2015
PEMAKNAAN PENDIDIKAN
DALAM
PERSPEKTIF FILSAFAT
HINDU
Tuhan yang diberikan label Maha
Tahu
dan Maha Pencipta,
selain menciptakan manusia dan
alam
semesta, Tuhan memberikan pula agama
wahyu.
Agama
Hindu
sebagai agama wahyu, terkodifikasi dalam bentuk kitab suci Veda. Veda disertai dengan aneka teks tafsir, seperti kitab
Brahmana, Upanisad,
Wiracarita, dan
lain-lain
sehingga melahirkan seperangkat ajaran agama
yang bersifat Agama Hindu sangat kaya akan ide-ide
filsafat, tidak saja tercermin pada ajarannya, tetapi
juga pada munculnya aneka aliran filsafat
dalam Agama Hindu.
Berkenaan
dengan itu tidak
mengherankan jika filsafat merupakan bagian yang
tidak
terpisahkan dari
Agama
Hindu.Walaupun kaya akan filsafat, namun Agama Hindu tidak mengenal istilah filsafat,
melainkan
memakai istilah darshana.
Istilah darshana disamakan dengan filsafat.
Kata darshana berarti
melihat
atau mengalami. Pemaknaan seperti
ini
memberikan petunjuk, bahwa
filsafat dalam konteks Agama Hindu, tidak
hanya merupakan
spekulasi metafisika,
tetapi didasari
pula oleh
data langsung. Pengalaman langsung adalah sumber darimana pikiran India
mengalir, dan ini diterima sebagai
dasar filsafat
di India .
Walaupun filsafat Hindu
sangat menghargai olah pikiran dan pengalaman, namun ada aspek penting yang membedakannya, yakni penghargaan terhadap intuisi. Gejala
ini
berkaitan
dengan hakikat manusia,
yakni
memiliki kesadaran supra
yang
memberikannya kemampuan untuk
mendapatkan pengetahuan
secara intuitif yang
di dalamnya mencakup
olah rasa dan olah batin.
Jadi, dalam
rangka mendapatkan
pengetahuan, filsafat Hindu tidak
hanya ber- muatan olah pikiran
(rasionalisme) dan olah
pengalaman (empirisme)
atau memadukan wadah
rasional dan
empiris sebagaimana
yang lazim
berlaku pada filsafat Barat, melainkan meminjam
gagasan memperhatikan pula intusi yang di dalamnya mencakup
kesadaran supra, olah
rasa dan olah batin. Namun di balik pencarian kebenaran secara falsafati
maka peran Agama Hindu sebagai sumber kebenaran
tidak
bisa diabaikan. Agama Hindu adalah kebenaran yang
berdimensi kewahyuan sehingga
kualitasnya bersifat absolut dan tak
tercampuri
(murni).
Teks suci Veda dan
tafsirnya, tidak saja memuat tentang
tata kelakuan keagamaan, tetapi memuat pula aneka tata kelakuan sosial. antara lain tentang
pendidikan. Cakupannya sangat luas dan kompleks
sehingga bisa menjawab
permasalahan pendidikan yang lazim dipertanyakan dalam
filsafat pendidikan. Bertolak dari kenyataan
ini tidak berlebihan
jika dikatakan, bahwa Agama Hindu mengenal filsafat pendidikan atau
secara lebih spesifik bisa disebut Filsafat
Pendidikan Hindu. Adapun gagasan Filsafat
Pendidikan Hindu
tentang
hakikat pendidikan (Apa
itu
pendidikan?) adalah
sebagai berikut.
Ø Pendidikan adalah dewatanisasi insani
Manusia
adalah makhluk
pendidikan (homo
educadum), sebab berkemampuan mendidik dan dididik.
Begitu pula kelangsungan hidup manusia
baik sebagai sistem
organisme
maupun kepribadiannya, dan sistem sosial bentukannya, bergantung pada pendidikan.
Realitas
ini
disadari oleh Agama Hindu, terbukti dari kenyataan,
bahwa Agama Hindu
banyak mengkaji masalah
pendidikan. Hal ini
telah berlangsung
sejak
awal,
terlihat pada
ungkapan-ungkapan
teks kuno
sebagai berikut.
1.
Sa
vidya ya vimuktaye
(Pembelajaran adalah yang membebaskan manusia)
2.
Vidya tritiyo
netrah
(Pembelajaran seperti mata ketiga)
3.
Vidyayamrihtamashnute
(Pembelajaran membuat manusia abadi)
4.
Na hi jnanen sadrisnham pavitramih
vidyate
(Tidak ada yang lebih murni di dunia ini
daripada pengetahuan)
5.
Vidya balam chandrabalamstathaiva
(Mudah-mudahan
kekuatan
pengetahuan dan
kekuatan bulan
menganugrahi kamu sekalian)
6.
Vidya gurunam guruh
(Pengetahuan merupakan gurunya guru)
7.
Kim kim na sadhyati Kalpalateva vidya
(Apa yang tidak dijumpai
oleh
pembe- lajaran itu? Ia merupakan sebuah tumbuhan magis atau pohon kebijaksanaan)
8.
Vidya vihinah pashuh
(Seseorang yang tanpa pembelajaran adalah binatang)
Ungkapan-ungkapan
ini menunjukkan bahwa
Agama
Hindu
sangat menghargai
pentingnya
pengetahuan bagi kehidupan manusia. Gagasan
ini
sangat tepat,
terbukti dari adanya kenyataan, bahwa pada era postmodern atau pasca
kapitalis
saat ini, sumber ekonomi dasar tidak lagi alat- alat produksi, modal, daya alam, dan tenaga
kerja, melainkan pengetahuan.
Begitu pula keunggulan
negara negara-negara kapitalis global tidak bisa dilepaskan dari ke- mahakayaan modal (ilmu) pengetahuan yang diaktualisasikan dalam
berbagai produk teknologi
canggih. Perolehan
pengetahuan didapat melalui
pembelajaran. Kemampuan belajar merupakan
aspek penting bagi
eksistensi manusia, tidak
hanya karena belajar adalah pintu gerbang bagi
pengetahuan, tetapi
juga karena
kemampuan belajar adalah aspek penting yang membedakan manusia daripada binatang.
Agama Hindu menyebut pendidikan
dengan
istilah
aguron- aguron atau asewakadharma. Pendidikan bisa dilakukan di sekolah atau pada
zaman Veda
disebut
sakha atau
patasala.
Pada masyarakat Bali mengenal istilah asrama, pasraman
atau katyagan.
Apa pun nama lembaga pendidikan, baik
asrama maupun sekolah, pasti memiliki tujuan.
Apabila kita kaji tentang
makna
pendidikan
mengandung arti mengantarkan seorang anak
menuju ke tingkat dewasa atau kedewasaan. maka kata dewasa ini dapat dikaji maknanya dengan kata
dewa atau
devata, dimaksudkan seorang itu dalam perilakunya sudah memiliki
sifat-sifat kedewataan (Daiwisampat),
karena kata dewasa (dewasya)
berasal dari kosa kata
bahasa Sansekerta, yang artinya memiliki sifat dewa, juga berarti yang bercahaya,
tentu
diharapkan perilaku anak mengikuti
ajaran
ketuhanan atau memancarkan
nilai-nilai ketuhanan, tidak sebaliknya dikuasai oleh sifat- sifat keraksasaan (Asurisampat).Dengan demikian, dilihat
dari
makna kata
dewasa, maka tujuan pendidikan bukanlah menjadikan peserta didik agar dewasa dalam
arti perkembangan badaniah,
tetapi lebih mengarah kepada
menjadikan insan berkarakter kedewataan (dai-
wisampat) atau divine human yang
sekaligus berarti mencegah
kehadiran manusia berkarakter
keraksasaan (asurisampat)
atau
demonic human.
Berdasarkan paparan
di atas dapat
disimpulkan, bahwa
Agama Hindu memiliki Filsafat
Pendidikan Hindu yang bersumberkan pada
Veda dan teks tafsirnya, dikombinasikan dengan
rasionalisme, empirisme
dan
intuisi sehingga
kebenaran yang didapat
juga bersifat metafisik. Topik-topik yang lazim dikaji dalam
filsafat
pendidikan ada di dalam
Agama Hindu, di antaranya adalah
pendidikan.
Agama
Hindu
menggariskan, bahwa hakikat adalah proses untuk
mewujudkan
manusia berkarakter kedewataan,
daiwisampat, divine human atau Pandawaisme. Sebaliknya, mencegah timbulnya
manusia yang berkarakter keraksasaan, asurisampat, demonic human atau Korawaisme. Berkenaan dengan itu maka hakikat, proses,
dan
tujuan pendidikan dalam
perspektif Filsafat Pendidikan Hindu bisa
disebut sebagai dewatanisasi insani atau deraksasanisasi insani.

menarik
BalasHapus