PAPER
STUDI AGAMA HINDU II
MULTIKULTURALISME
YANG TERKANDUNG DALAM KONSEP TRI KAYA PARISUDA DAN PANCA SIDHIARTA
Oleh:
Nama : ALPI SISWANTO
NIM : 15 11 005
Prodi : Magister Pendidikan Agama
Hindu
Semester : II (Dua)
Jenjang : Strata Dua (S.2)
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG
PENYANG ( STAHN-TP )
PALANGKA RAYA
2016
BAB I PENDAHULUAN
Peradaban Hindu di dunia sangatlah bekembang pesat, hingga
saat sekarang ini agama Hindu di dunia telah menimbulkan pengaruh yang sangat
besar dalam sebuah perkembangan kehidupan beragama. Pengaruh yang terjadi di
dunia barat tersebut menyabar kesuluruh penjuru dunia sehingga agama Hindu
dikenal dimata dunia. Khususnya di Negara India agama Hindu sangatlah
berkembang pesat dan di Negara india tersebutlah yang merupakan asal mula agama
Hindu ada sehingga menyebar keseluruh penjuru dunia.
Indonesia mengakui bahwa adanya agama Hindu, peradaban
Hindu di Indonesia pertama kali berkembang yaitu di daerah Kalimantan Timur
tepatnya di kerajaan Kutai yang merupaka kerajaan tertua Hindu yang diakui
sejarah sampai saat ini, setelah itu agama Hindu menyebar keseluruh pulau yang
ada di Indonesia tercinta ini. Agama Hindu di Indonesia dalam setiap kegiatan
keagamaannya terkenal perbedaan-perbedaan dalam persepsinya. Perbedaan yang
terjadi merupakan hasil dari berbedanya kenyakinan terhadap tempat, waktu dan
keadaan dimana dia berada, misalnya di pulau Bali saja terdapat perbedaan dalam
pelaksanaan kegiatan keagamaan dengan Hindu yang di Kalimantan. Perbedaan
tersebut yang menjadikan keanekaragaman agama Hindu di setiapa wilayah di
Indonesia ini. Keanekaragaman atau yang di sebut juga dengan mulitikulturisme
inilah yang menjadikan agama Hindu penuh dengan keragaman budaya yang
berpariasi.
Multikultur ini juga mejadikan umat Hindu memiliki
perbedaan dengan umat yang lainnya, yang nantinya akan terjadi sebuah perpaduan
yang menarik dalam sebuah upacara kagaman dan bahkan juga terjadi hal yang
buruk terjadi konflik antara umat Hindu itu sendiri nantinya, karena perbedaan
persefsi tentang pelaksanaan upacara keagamaan tersebut.
Berawal dari masalah itulah, maka dalam penulisan ini akan di bahas masalah mengenai,
multikulturisme yang terkandung dalam konsep Tri Kaya Parisudha dan
multikulturisme yang terdapat dalam konsep Panca Sidhiarta.
II PEMBAHASAN
1. Multikulturisem
dalam Konsep Tri Kaya Parisudha
Kata Tri Kaya Parisudha dapat
diartikan sebagai berikut : "Tri artinya tiga, Kaya artinya perbuatan dan
Parisudha artinya suci atau benar. Jadi Tri Kaya Parisudha dapat diartikan :
tiga perbuatan yang suci atau tiga perbuatan yang harus disucikan" (Suhardana,
2010: 42). Tiga perbuatan yang harus disucikan tersebut adalah : Manacika,
Wacika dan Kayika. Hal ini dapat dipetik dari Manawa Dharma Sastra sloka 73
sebagai berikut :
"Hana karma phata ngaranya, kahrtaning,
india sepuluh kwehnya, ulahaken kramanya, prawr Hyaning manak sekareng, telu
kwehnya, ulahaning wak, pat prawrttyangning kaya, telu, pinda sapuluh,
prawrttyaning kaya, wakmanah kengeti".
Artinya:
Adalah karma phala namanya, yaitu mengendalikan hawa nafsu,
sepuluh banyaknya yang patut dilakukan, perinciannya, gerak pikiran tiga
banyaknya, gerak perkataan empat jumlahnya, perbuatan yang timbul dari gerakan
badan tiga banyaknya, jadi sepuluh banyaknya yang timbul dari gerakan pikiran,
perkataan dan gerakan badan inilah yang patut betul-betul diperhatikan
(G. Pudja, 2012: 61).
Seloka tersebut di atas menjelaskan bahwa bagian dari
pikiran, perkataan dan perbuatan masing-masing memiliki bagian yang
keseluruhannya manjadi sepuluh bagian. Jadi kesepuluh bagian yang timbul dari
pikiran, perkataan dan perubuatan inilah yang sepatutnya kita jaga dan kita
perhatikan secara baik dan dikendalikan secara baik.
Kehidupan yang dialami manusia yang satu dengan manusia
yang lainnya diharapkan yang baik itu selalu dibiasakan misalnya pemikiran,
perkataan dan perbuatan yang menentukan manusia didalam hidupnya berupa Dharma
laksana budhi pekerti yang tentu arah tujuannya dan bahagia untuk diri-sendiri
dan untuk orang lain.
Beberapa penjelasan tersebut di atas, tentang pengertian
Tri Kaya Parisudha adalah tiga pengendalian prilaku manusia ke jalan yang
benar. Dalam hal tersebut umat Hindu telah menyadarinya mana dikatakan baik
atau mana dikatakan tidak baik.
Sedangkan yang dimaksud dengan Multikulturalisme secara
etimologis dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme
(aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan
martabat manusia yang hidup dalam komonitasnya dengan kebudayan masing yang
unuk, (Mahfud, 2011: 75). Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa
multikulturalisme yaitu sistem kebudayaan yang berbeda-beda atau keanekaragaman
budaya.
Berdasarkan beberapa penegrtian tersebut sebelumnya maka
dalam konsep Tri Kaya Parisudha ini, yang bagiannya terdiri dari, Manacika
(pikiran), Wacika (perkataan) dan Kayika (gerak/perbuatan). Bagian-bagian Tri
Kaya Parisudha tersebut apabila kita lihat menggunakan multikulturalisme, maka
dapat kita ketahui bahwa konsep Tri Kaya Parisudha ini memiliki nilai
multikultur. Dikatakan multikulturalisme karena setiap umat Hindu dimanapun
berada selalu berusaha mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan untuk
kearah yang baik, selain itu juga pikiran merupakan bagian yang terpenting
dalam kehidupan manusia. Manusia dimanapun berada memiliki pemikiran yang
berbeda-beda dan pikiran juga yang mempengaruhi manusia untuk berbicara berbeda
dengan manusia satu dengan yang lain srta dalam berbuat untuk menghasilkan
sebuah kegiatan atau aktivitas yang berbeda dari yang lain-lainya.
Selain itu konsep Tri Kaya Parisudha ini merupakan penyebab
umat Hindu memiliki keanekaragaman atau multikulturalisme yang sangat
signifikan dikenal oleh mata dunia. Agama Hindu dengan Tri Kaya Parisudha juga
dikatakan agama yang universal dikernakan keanakaragaman yang diciptakan oleh
pemikiran manusia yang berbeda, bahasa atau perkataan yang berbeda sehingga
menghasilkan gerak atau perbuatan yang berbeda-beda pula dalam setiap daerah di
Indonesia ini.
2.
Multikulturisme dalam Konsep Panca Sidhiarta (Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Patra/Tattwa)
Ajaran agama Hindu sangat banyak
memiliki konsep-konsep diantaranya konsep, Iksa (tujuan), Sakti (kemampuan), Desa
(tempat), Kala (waktu), dan Patra (keadaan/keberadaan), yang sesunggunya sangat sesuai dengan konsep Veda, seperti apa yang
dijelaskan dalam Manavadharmasastra VII.10, yaitu:
“Karyam so’veksya saktimca
desakalan ca tattvatah
kurute dharmasiddhiyartham
visvarupam punah punah”
Artinya:
“ Setelah mempertimbangkan sepenuhnya maksud, kekuatan dan tempat serta
waktu, untuk mencapai keadilan ia menjadikan dirinya menjadi bermacam wujudnya,
untuk mencapai keadilan yang sempurna” Pudja, (2012: 355)
Dari sloka di atas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan
kebahagiaan maka setiap aktivitas keagamaan harus dilaksanakan sesuai dengan
1.
Iksa, yaitu tujuan dari upacara tersebut harus diketahui dengan jelas,
sehingga arah pelaksanaan upacara dapat bejalan dengan baik
2.
Sakti,
artinya dalam melaksankan upacara keagamaan harus mengukur kemampuan atau
kekuatan, baik financial maupun pemahaman terhadap upacara tersebut. Sehingga
tidak ada kesan bahwa upacara tersebut sebagai pemborosan.
3.
Desa,
yaitu tempat dimana upacara dilangsungkan, upacara di Bali tidak harus
sama dengan upacara di luar Bali. Upacara harus disesuaikan dengan
kondisi dan potensi wilayah setempat.
4.
Kala,
yaitu waktu pelaksanaan upacara juga harus mendapatkan perhatian sehingga
upacara tersebut memiliki daya manfaat, sehingga harus dilaksankan dengan
efisien, efektif dan bermanfaat.
5.
Patra
yaitu keadaan dalam pelaksanaan upacara harus melihat keadaan atau kondisi alam
sekitar atau melihat kondisi dimana kita berada sehingga dalam pelaksanaan
upacara berjalan dengan hikman dan penuh penghayatan.
Penjelasan tersebut dapat kita ketahui bahwa Iksa berarti dalam
setiap upacara keagamaan umat Hindu dimana saja berada selau memiliki sebuah
tujuan untuk siapa upacara itu dilaksanakan harus memiliki tujuan yang jelas.
Sakti merupakan umat Hindu baik dimana saja berada dalam melaksanakan kegiatan
keagamaan tentunya menyesuaikan kemampuan material sehingga tidak terlihat
seperti pemborosan. Dasa merupakan tempat, dalam setiap pelaksanaan upacara
keagamaan, umat Hindu tidak bisa menyamakan daerah yang satu dengan daerah yang
lain. Kala atau waktu, berkaitan dengan waktu umat Hindu dimanapun berada pada
saat pelaksanaaan upacara keagamaan pasti mencari atau menentukan waktu yang
tepat, sehingga dalam setiap kegiatan upacara keagamaan terlaksana sesuai apa
yang diharapkan. Selanjutnya Patra/keadaaan umat Hindu tidak bisa melaksanakan
upacara keagamaan harus sama dengan umat Hindu yang secara umum di Bali
misalnya. Umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan keagamaan menyesuaikan kondisi
dimana berada sehingga terjadinya perbedaan dalam tata cara, sesajen yang
dibuat pada pelaksanaan upacara.
Berdasarkan konsep ajaran agama Hindu tersebut maka, dalam
konsep Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Patra ini sehingga agama hindu memiliki
keanekaragaman budaya atau multikulturalisme yang sangat unik. Keunikan yang
terjadi pada agama Hindu ini disebapkan oleh adanya keberadaan tempat, waktu
dan kondisi dimana agama Hindu itu berada sehingga menyesuaikan dengan keadaan
dimana berada maka terjadilah perbedaan antara daerah satu dengan daerah
lainnya. Pada intinya dalam konsep ini terdapat nilai multikulturalisme
dikernakan agama Hindu berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lainnya itu
semua disebabkan oleh konsep Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Patra dalam ajaran
agama Hindu.
III
PENUTUP
Berdasarkan beberapa pembahasan tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa, konsep Tri Kaya Parisudha pada ajaran agama Hindu merupakan
hal yang sederhana akan tetapi memiliki nilai keberagaman budaya atau multikulturalisme.
Misalnya dalam ajaran ini umat manusia semuanya dipengaruhi oleh pikiran, dari pikiran
lah sehingga berbuah sebuah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan umat Hindu yang
memiliki persepsi berbeda namun tujuannya sama yaitu mencapai moksa (kebahagiaan
yang abadi. Sehingga menyebabkan terjadinya keanekaragaman budaya yang sangat
unik di mata dunia.
Selanjutnya konsep Panca Sidhiarta ( Iksa, Sakti, Desa, Kala,
dan Patra), agama Hindu merupakan agama yang memiliki keanakaragaman yang
sangat unik. Perbedaan yang terjadi dikernakan oleh agama Hindu dimanapun dia
berada selalu menyesuaikan kemampuan, tujuan,
tempat, waktu dan keadaan dimana agama Hindu itu berada.
DAFTAR PUSTAKA
Mahfud, Choirul, 2011. Pendidikan Multikultural, Yogyakarta:
PUSTAKA PELAJAR OFFSET.
G. Puja dan Tjokorda Rai
Sudharta, 2012. Manawa Dharmasastra (Manu
Dharmasastra) Atau Weda Smrti Compendium Hindu, Denpasar: Widya Dharma.
Suhardana, Komang, 2010. Kerangka Dasar Agama Hindu, Surabaya:
Paramita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar