Jumat, 24 Juni 2016

SEJARAH ASAL-USUL UAPACARA ARUH PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

SEJARAH ASAL-USUL UAPACARA ARUH PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA LABUHAN KECAMATAN BATANG ALAI SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Pada jaman dahulu dijaman Nining Balian Rangan adalah seorang yang bernama Maharaja Kalih atau Datu Turun Angin hidup disebuah tempat kediamannya dengan istrinya yang bernama datu Mangkulung maka sangat rukun dan damai hidup bersuami istri tidak pernah terjadi pertengkaran. Dalam kehidupan rumah tangga mereka dikaruniai delapan anak laki-laki adapun nama masing-masing anak tersebut adalah:
1. AnginPanambai                5. Pambalah Batu
2. PangugurWarik                6. panimba Sagara
3. ParuntunManau                7. PamapasHaib
4. PamunggalTompo                        8. pamunggal munggu
Pendek cerita kedelapan anak laki-laki ini tumbuh dengan dewasa dan makannya dari hari kehari sangat banyak, sehingga kedua orang tuanya tidak sanggup lagi memberi makan lalu Maharaja Kalih dengan istrinya berunding untuk mencari jalan keluar guna memecahkan masalah ini dan demi kelangsungan anak-anaknya kedelapan bersaudara. Hal ini mengingat makan yang sangat banyak, sehingga hasil panen padi yang berlimpah ruah dari hasil perladangan yang seluas delapan buah gunung, delapan buah sungai yang seharusnya cukup untuk beberapa tahun, hanya dimakan beberapa hari sudah habis, maka mereka sepakat untuk membuang anak mereka ke arah Pangguguran atau ke arah mata hari tenggelam. Setelah sepakat maka ayahnya pun pergi menggajak anak-anaknya untuk berburu kedalam hutan dan tujuan mereka berburu kearah matahati tengelam atau kearah Panguguran. Pendek cerita perjalanan mereka semakin jauh kedalam hutan dan dipikirkan anaknya tidak ingat pulang, lalu sang ayah meninggalkan anak-anaknya di dalam hutan. Sesampai di rumah kata sang istri mana anak-anak kita, jawab sang suaminya mereka aku sesatkan didalam, sehinga tidak bersusah payah lagi untuk memberi makan anak-anak kita kata sang ayah.

tercerita anak-anak Maharaja Kalih didalam hutan, setelah hari menjelang sore mereka berkumpul kedelapan bersaudara dengan membawa hasil buruannya masing-masing. Diantaranya ada yang bertanya dimanakah kita ini, salah seorang menjawab entahlah aku juga tidak tau.Lalu kata Pamunggal Munggu apakah kakak semua tidak ada yang mengetahuinya dan mengerti maksud ayah mengajak berburu ke dalam hutan ini, jawab oleh saudara-saudaranya yang lain tidak, kami tidak mengetahuinya. Baiklah kata Pamunggal Munggu kalau memang tidak ada tahu sekarang saya terangkan maksud ayah membawa kita kedalam hutan adalah hanya lantaran orang tua kita tidak sanggup lagi untuk memberi makan dan sebagainya. Memeng sudah kehendak Nining Bahatara, beberapa diantara kita tidak mungkin kita semua lupa akan jalan pulang kemudian mereka sepakat untuk tingal disana dan mereka membuat api dengan cara memukul besi dengan batu keras, guna menghangatkan badan dan memasak daging hasil buruan. Selain itu mereka juga membuat tempat untuk berlindung yaitu pupundukan atau gubuk didalam hutan.

Pendek cerita pekerjaan delapan bersaudara ini hanya berburu saja dan dagingnya hanya dipanggang agar awet.Jadi setiap daging hasil buruan tersebut dipanggang supaya tidak cepat membusuk, maka keesokan harinya yang kedelapan bersaudara pergi berburu dan setelah pulang mereka masing-masing mancari panggangan guna menutup perut yang lapar. Pada suatu hari mereka menemukan sebuah ladang, di tengah ladang tersebut ada sebuah Balai. Setelah singahkebalai tersebut dan dipersilahkan masuk oleh pemilik Balai tersebut ternyata didalam Balai tersebut tingallah keluarga Jukut Garumbal Balakang dan dengan istrinya yang bernama Nining Kawayan yang memiliki delapan anak perempuan yang masih belia atau remaja.
Pembicaraan terus berlanjut dari hari ke hari dan saling menggenal satu satu sama lain berbulan-bulan waktu sudah berjalan mereka pun ingin menikahi anak Jukut Garumbal Belakang maka pada suatu hari si tamu (Pamunggal Munggu) mengutarakan maksud untuk melamar anak si punya Balai tersebut. Sekaligus juga melamarkan untuk kakak-kakaknya. Hal ini menggingat mereka sama-sama bersaudara delapan orang dan berpasangan menurut urutan lahir. Berkata si punya Balai yang paling bungsu katanya, kakak ini memang pandai mengatur dan seandainya kakak sendiri tak ada pasangannya bagaimana andaikata aku tidak ada pasangan tentu saja tidak mungkin kita dipertemukan oleh Nining Bahatara. Hari sampai sore dan si tamu mohon diri katanya, besok kami kesini lagi untuk menentukan hari baik untuk melaksanakan perkawinan setelah itu si tamu mohon diri keesokannya harinya pergilah Pamungal munggal bersama kakaknya ketempat dimana wanita muda tersebut itu tingal, sesampainya  disana mereka diterima dengan sopan dengan hormat.
Setelah disuguhi Panginangan atau (sirih, kapur, pinang dan lain-lainnya), makanan dan minuman, si tuan rumah bertanya pada sang tamu tentang maksud kedatangannya, jawab si tamu bahwa kedatangan nkmi ke siniyaitu ingin menyambung pembicaraan adiknya kemaren, bahwa kedatangannya ingin melamar semua anak Jukut Garumbal Balakang untuk dijadikan istri dari Pamungal Munggu serta juga untuk dijadikan istri dari saudara-saudaranya dan kami juga sepakat tentang pasangan kita menurut urutan lahir, yaitu: anak pertama dengan anak pertama, kedua dengan yang kedua demikian seterusnya. Berkata si tuan rumah kami setuju saja, Cuma kita tidak bisa berkumpul sebelum ada upacara perkawinan, kerena perbuatan itu  bertentangan dengan ajaran Agama dan merupakan berbuatan Rigat. Rupanya si tamu sudah tidak sabar untuk kawin dan siapa yang akan mengawinkan kita kata dari pihak laki-laki, jawaban dari pihak perempuan yang mengawinkan kita  ialah Balian Rangan.
Setelah itu mereka bersama-sama pergi ketempat Balian Rangan, dan setelah dikawinkan oleh Balian Rangan mereka memohon diri untuk pulang. Sesampainya dirumah sang istri mereka memasak nasi sedikit, lalu kata sang suami delapan bersaudara katanya, kalau memasak seperti ini tidak cukup bahkan saya sendiri pun tidak cukup kata Pamunggal Munggu, lalu kata sang istri, nanti kita liat kenyataannya. Setelah nasi masak sang suami ada yang mau loncat untuk mengambil nasi tersebut. Lalu sang istri berkata kakak tidak boleh dimakan terlebih dahulu kita harus melaksanakan Bahihimpat atau (yajna sesa) agar apa yang kita makan dapat memberikan kekuatan, kesehatan dan lain-lainya. Rupanya anak dari Jukut Garumbai Balakang yang bernama Dara Kawalu merupakan pengikut dari balian rangan tetapi ia hanya sebatas dari Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa. Adapun nama-nama dari anak Jukut Garumbal Balakang dari yang paling tua sampai yang paling tua yaitu:
1.              Dara kaasa                 5. Dara kalima
2.              Dara kadua                 6. Dara kaanam
3.              Dara katalu                 7. Dara kapitu
4.              Dara kaampat             8. Dara kawalu
Setelah mereka melaksanakan Bahihimpat atau melaksanakan yajna sesa mereka sekeluarga besar makan bersama tetapi baru sebentar suami mereka makan sudah berhenti dan suami mereka bilang sudah sangat kenyang sekali. Lalu istrinya berkata kepada suaminya nah kak katanya nasi kita tidak cukup, tetapi kenyataannya masih ada  yangtersisa.
Setelah itu lah para suami mereka percaya bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan kehadapan  Nining Bahatara akan mendapatkan berkat atas apa saja yang mereka makan dan yang mereka minum. Kemudian mereka semua juga melaksanakan upacara Aruh atas bimbingan para istrinya setelah itu merekapun  mempersiapkan segala kelengkapan dan saran-saran yang digunakan untuk melaksanakan upacara Aruh, dan setelah semua perlengkapan dan kelangkapan  untuk melaksanakan upacara Aruh mereka pergi ketempat Balian Rangan untuk melaksanakan upacara Aruh dan hanya Balian Ranganlah yang bisa melaksanakan upacara Aruh pada saat itu. Disanalah Balian Rangan Lanang menggajarkan tatacara upacara Aruh kepada para suami anak Jukut Garumbal Balakang sedangkan Balian Rangan Wadun juga mengajarkan kepada para istrinya untuk cara basaji atau membuat sesajian yang akan dipersembahkan kehadapan Nining Bahatara. Dan suami mereka langsung Dicacaki dioleskan kapur dibagian dada dan bagian lengan sebelah kanan seperti simbol angka tambah (+) oleh Balian Rangan, sebagai tanda bahwa mereka telah sah sebagai pengikut Balian Rangan dan menjadi Balian Tambai atau balian yang pertama kali menjadi murid Balian Rangan yang nantinya merekalah yang menyampaikan kepada umat manusia tentang ajaran-ajaran Balian.
Setelah upacara Aruh selesai dan suami anak Jukut Garumbal Balakang telah sah menjadi Balian lalu kata Balian Rangan  kepada istri-istri mereka bahwa suami kalian tidak seperti dulu lagi dan dia sudah seperti manusia biasa. Jadi mulai hari ini kalianlah yang yang meneruskan ajaran-ajaran ini semua kepada umat manusia, bahwa setelah padi dipanen tidak boleh dimakan harus diadakan upacara Aruh, sebagai tanda terima kasih kepada Nining Bahatara dan persembahan ini setahun sekali, tetapi kalian harus selalu ingat pada beliau untuk meminta petunjuk dan penerangan dalam kehidupan. Aku sejak ini tidak akan bersama kalian lagi, sabab aku mau pulang Kabalai Balian Tujuh Tingat Tujuh Ruang dan Tingat Kadalapan disebut Balai Basundan (Moksa), sekalian menunggu para pengikutku dan Harin Orang Pangaruh tapi bila kalian menghendaki aku datang cara untuk mendatangkan aku adalah dengan cara membakar kemeyan, Dahupa atau dupa namun disini ku tidak berwujud, hanya saja apabila bulu kuduk merinding berarti aku datang. Mengenai kalian semua ajaran Balian sudah lengkap ku ajarkan pada kalian, maka sejak hari ini pula kalian delapan bersaudara tidak boleh berkumpul seperti biasanya, karena di daerah lain banyak manusia yang membutuhkan ajaran ini dan perlunya bimbingan kalian dan kalian tidak beleh dalam satu daerah tinggal saudara yang lainnya atau dalam Bahasa Balianya Kada Tagapuk Kada Taraung Kada Uleh Baraja Dua. Setelah balian rangan berkata demikian maka dengan sekejap mata balian rangan pun menghilang dari tempatnya berbicara.
Setelah Balian Rangan berkata bahwa mereka harus menyebar dan menyebarkan ajaran-ajaran yang telah ia berikan kepada mereka maka mereka sebelum berpisah mereka makan bersama dirumah Jukut Garumbal Balakang pada saat itu juga mereka saling berpelukan dengan saudara-saudara mereka, mereka saling meminta maaf antara satu sama lain selama mereka bersama mungkin ada kata-kata yang menyingung persaan saudara-saudaranya dan mereka berjanji satu sama lain akan bertekat menjalankan ajaran-ajaran Balian seperti yang telah diajarkan oleh Balian Rangan kepada mereka dengan baik serta juga tidak melanggar ajaran-ajaran agama Hindu sama halnya dengan melaksanakan upacara Aruh setiap tahun.
Kembali kepada cerita Aruh, sebenarnya Maharaja kalih tidak mengenal adanya upacara Aruh dan tidak mengenal ajaran Nining Balian Rangan sebagaimana yang telah beliau ajarkan kepada pengikutnya namun anak-anak Maharaja Kalih sebelum pergi menyebarkan ajaran Balian mereka mencari tempat tinggal kedua orang tuanya setalah melewati bermacam-macam sungai dan hutan rimba pada akhirnya mereka bisa menemukan kedua orang tuanya walaupun dengan susah payah mereka mencarinya. Setelah mereka bertemu dengan orang tuanya merekanpun mengajarkan ajaran Balian kepada kedua orang tuanya walaupun hanya sebatas hanya Mahanyari yaitu tingkatan upacara Aruh yang paling sederhana setelah mereka mengajarkan upacara itu merekapun pergi ke berbagai daerah khususnya yang ada di daerah wilayah pegunungan Meratus.

2 komentar: